16 Maret 2017

Baarokallahu fiikum Alza...


by. Defi Sulistyana

Bismillaahirrohmaanirrohiim.

Woow!
benar-benar bulan yg wow bgt.
penuh syukur karena masih diberikan nikmat untuk bisa mengeja rasa syukur.
Koq gitu? bayangin nih kalau udah diberi kenikmatan, tapi gak diberikan nikmat untuk mengeja rasa syukur? rugi banget kan? bisa-bisa sudah kufur nikmat.

hmmmp...
begitulah dalam menjalankan misi di games kedua ini,

Menantang diri saya untuk bisa melatihkan kemandirian pada anak-anak.
Kenapa malah diri saya sendiri yang perlu ditantang? iya, karena saya tahu pasti ini butuh kegigihan, ketelatenan, dan juga kesabaran. πŸ’‘πŸ”

My Alza (Alifa - Zahrani) We're proud of you. Baarokallahu fiikum. Semoga kelak kalian menjadi muslimah sejati. Wanita muslimah akan memahami arti keteguhan dalam memegang agamanya, walau bagaimanapun sulitnya kondisi di sekitarnya, sehingga ia dapat hidup dengan keyakinan yang tinggi kepada Allah, tenteram dengan KeridhaanNya, sekalipun ujian berat menimpanya. ia tidak akan tunduk pada peradaban yg menggiring kearah pengikisan akidah. ❤❤❤

Biidznillaah, atas ijin Allah, Allah mudahkan kami mengarungi bahtera pengajaran kedisplinan pada anak dalam kurun waktu hampir satu bulan ini, 
Banyak lika likunya yang pasti, sedih, senang, kaget, surprise indah...

Sehingga saya pun, bisa merangkumnya dalam secuil paragraf dibawah.


πŸ“š K.E.M.A.N.D.I.R.I.A.N πŸ“š

Setiap keluarga pastilah mendamba menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah.
Istrinya shalihah taat pada suami, suaminya shalih "gemathi" dengan anak istri, anak-anaknya qurrota a'yun.. Waah.. benar2 menyejukkan pandangan pasti kan ya.. mbayangin aja sudah meleleh.
Hmm, Insyaa allah bisa koq selama ada tekad yang kuat, Allah pasti mengabulkan doa hambaNya yang taat.
Iya, kuncinya "Taat" dan cabangnya banyak sekali.
Salah satu ciri keberhasilan dalam rumah tangga yaitu kalau dapat memberitahukan anak-anak tentang Allah, Malaikat, dan Rasul-Nya. Lalu anak bisa mengurus dirinya sendiri saat ia mencapai aqil baligh.

Foto kk saat menumpahkan makanan lalu mengambil sapu dan membersihkannya tanpa ada aba-aba 😍


Ada sebuah paradigma yang menurut saya kurang tepat, bahwa seorang anak dikatakan mandiri jika sudah punya pekerjaan tetap atau bisa mencari uang sendiri. Padahal, sejatinya anak-anak itu bisa dikatakan mandiri kalau sudah salat sendiri dan ibadah sendiri tanpa disuruh. Kenapa saya bilang kurang tepat? karena memang tidak salah mendidik anak agar mandiri secara financial. Tapi harus dibekali kemandirian Islami dahulu di awal.

Lalu, bekal kemandirian islami  seperti apa yang harus diberikan di awal? dan kapan itu dimulai? Mari kita lanjutkan diskusi.

Memandirikan Anak dalam urusan Adab.
Yap, adap bagi saya adalah hal yang perlu diawali sebelum terjun pada amal. Karena adab ini yang membentuk pola pikir anak saat dewasa nanti. Kalau kita menganggap biasa saat anak makan dengan tangan kiri, kita menganggap biasa saat anak mengambil tanpa permisi, itu akan menjadi habit. Dan saat habit tak bisa di rem, itu akan menjadi watak.
Maka, mengajarkan adab bagi anak-anak kami pada khususnya, sangat penting, tanpa kemudian menciderai fitrahnya sebagai anak-anak. Adab apa yang diajarkan? adab dalam ketaatan pada Robbnya, adab dalam keseharian, adab dalam beribadah, adab dalam bermasyarakat.
Setelah kita mengajarkan adab, baru kita ajarkan amal, amal yang berguna baginya dan juga bagi sekitarnya.
Maka harapannya, saat anak sudah berada pada fase baligh maka mereka juga akan matang secara akal (aqil baligh).

Yakinlah, bahwa anak-anak yang matang berpikirnya adalah anak-anak yang terbiasa mandiri dari kecil, dan saat ia sudah terbiasa mandiri sejak kecil, maka sedikit waktu yang ia gunakan untuk mengurus dirinya sendiri, dan akan banyak waktu yang bisa ia gunakan untuk mengurus umat.

So, kapan bisa dimulai?
Jelas bukan dimulai pada saat ia bayi, tapi setidaknya mendekati umurnya satu tahun, atau saat ia sudah memahami instruksi, kita bisa memulainya.
Sebagai contoh anak kedua kami, kami sudah memulai toilet training sejak ia berumur 7 bulan. Dan biidznillah berhasil urusan ompol. Jangan dipandang berhasil 100% ya, karena di tahap ini, kita baru bisa membiasakan, belum memandirikan DIY. Tapi, ia sudah bisa merespon saat dibawa ke kamar mandi, dan bisa pipis dengan instruksi menyenangkan alaa kami.
Yang pasti, dalam hal memandirikan anak ini, perlu ada stepnya. Bukan sebuah paksaan, bukan sebuah gertakan.

Kemudian, saat anak sudah mulai growing up, kita bisa berdiskusi bersama partner tersayang kita (eciye, suami) bagaimana pola dalam mengajarkan kemandirian ini sesuai dengan fitrah nya. 

Contoh lagi nih yaa, saya mem-planing hanya ada 2 kemandirian yang akan saya ajarkan dalam kurun waktu 20 hari. Karena si kk masih 2.5tahun, maka fitrah kemandiriannya dibuat dengan cara semenarik mungkin. Yang mengejutkan nih, si kk bisa membuat lebih dari 2 aspek kemandirian yang kami targetkan. Ini yang disebut bukan paksaan. Kalau bahasa ibu Septi, gaming! memandirikan anak dengan ritme bermain. Yang tanpa ia sadari, ia sudah bisa melakukan sesuatu tanpa bantuan ayah bundanya.

🌸Alifa dan Zahrani (Alza)🌸

Alhamdulillaahilladzi bini'matihi tatimush shalihat.

#AliranRasaKemandirianAnak
#KelasBunsayIIP
#IIPSolo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Her Name is Alifa Her name is Alifa Izzatunnisa, anak pertama kami, yang menjadi kakak saat usianya masih sangat belia, 2tahun. Iya, ...