10 Juni 2017

Ayo! Ajarkan anak gemar membaca.

by. Defi Sulistyana


Ini merupakan hari ketiga bagi saya, dalam mencanangkan gerakan rumah ramah literasi. Ya, walaupun ini terjadi bukan karena diawali atas inisiasi saya pribadi melainkan tugas kuliah di IIP untuk batch Bunda Sayang #2,
Tapi saya merasa bahagia karena saya dikarunia kesempatan berada pada posisi ini.
Membaca itu, bagi sebagian besar orang merupakan kegiatan monoton yang cenderung berarah pada kebosanan, ngantuk, dan sebagainya. Hal ini sangat jelas terlihat di Negara tercinta kita ini melalui survey yang dilakukan oleh BPS, bahwa minat baca masyarakat kita masih rendah. Dalam sebuah situs mengatakan, Kepala Biro Komunikasi Layanan Masyarakat (BKLM) Kemendikbud Asianto Sinambela menegaskan, minat baca literasi masyarakat Indonesia masih sangat tertinggal dari negara lain. Dari 61 negara, Indonesia menempati peringkat 60.
Berdasarkan survei UNESCO minat baca masyarakat Indonesia baru 0,001 persen. Artinya, dalam seribu masyarakat hanya ada satu masyarakat yang memiliki minat baca.

Tapi tak perlu khawatir,

Sebenarnya, membaca itu merupakan kegiatan ngulik seru jika kita sudah terbiasa. Karena dari membaca, kita bisa mengetaui hal-hal baru serta banyak ilmu lain.

Dalam pandangan islam, membaca merupakan hal yang sangat dianjurkan. Bisa dilihat saat pertama kali Rasulullah SAW. menerima wahyu yang disampaikan Malaikat Jibril di Gua Hiro. Lima ayat pertama kali turun adalah :

ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ (١) خَلَقَ ٱلۡإِنسَـٰنَ مِنۡ عَلَقٍ (٢) ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ (٣) ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ (٤)عَلَّمَ ٱلۡإِنسَـٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ (٥)

Artinya: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dengan nama Tuhanmu yang Maha Mulia. Yang telah mengajarkan manusia dengan perantaraan membaca dan manulis (Qs. Al-‘Alaq [96]: 1-5).

Makna Iqra
Iqra berasal dari kata qara’a – yaqrau – iqra. Artinya bacalah  atau membaca.

Dalam Al Qur’an, kata yang berakar dari qara’a telah disebut beberapa kali. Al Qur’an itu sendiri berasal dari kata kerja qara’a – yaqra’u – qur’anan yang berarti bacaan atau sesuatu yang dibaca berulang-ulang.

Hal ini menunjukan perhatian yang cukup besar dari Allah dan betapa pentingnya arti membaca bagi manusia.

Bahkan Allah menurunkan surat Al-‘Alaq sebelum surat - surat lain. Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk membaca sebelum IA memerintahkan yang lain. Hal ini tentu karena mengingat betapa pentingnya membaca.

Maasyaa Allah… 📖📖
Eits, banyak juga ternyata prolog saya. 😊😁


Pohon Literasi.
Sebenarnya, kegiatan membuat pohon literasi merupakan kegiatan yang diharapkan bisa membuat minat baca semakin besar, apalagi bagi anak-anak ini semacam langkah untuk bisa mendapatkan reward saat ia berhasil mencapai target-target tertentu sesuai kesepakatan keluarga.


Anak usia Pra TK
Dalam keluarga kami, budaya membaca sangat perlu, apalagi anak-anak kami sedang masa periode emas. Disinilah ajang untuk menumbuhkan minat baca. Anak yang belum mengenal tulisan, akan sangat tertarik dengan tulisan jika kita pandai mensiasatinya. Semua butuh ketekunan kita sebagai orangtua.

Maka, saya saat ini, mencoba mengajarkan minat pada mendengar atau listening. Kegiatan membacakan buku sebelum tidur memang sangat efektif untuk mengajak anak kita gemar mendengarkan. Terlihat, untuk kasus saya, semakin saya sering membacakan buku, maka anak akan ketagihan di bacakan.

(….bersambung)



Kegiatan kami menjelang tidur malam ini
 
Dari buku berjudul : Sang Maha Pengasih.
Sub Judul : Kucing dua kali meminta makan.

  
So Seriously. 😉


#TantanganKe5
#Harike3
#KuliahBunSayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst


07 Mei 2017

Her Name is Alifa


Her name is Alifa Izzatunnisa, anak pertama kami, yang menjadi kakak saat usianya masih sangat belia, 2tahun. Iya, tepat dua tahun usianya, si adek zahrani lahir, hadir menemaninya berpetualang.

Bagi sebagian orang, ini adalah waktu yang very hectic buat seorang ibu, punya bayi (lagi) saat sulungnya masih batita, kata orang jawa, masih manja-manjanya. Hemm, lalu saya terpikir, memang kalau sudah punya adek, sudah tidak boleh dimanja lagi? 😊 berarti ini akan kembali ke kamus keluarga masing-masing tentang memaknai kata ‘manja’.

Kembali ke Alifa, coretan ini memang saya sengaja untuk mengisahkan tentangnya. Gadis kecil, yang lembut hatinya, santun tuturnya, dan tentu banyak gerak!.

Loh, koq banyak gerak disandingkan dengan 2 kalimat positif? trus, siapa yang bilang banyak gerak itu kalimat negatif? justru bagi saya, itu sangat positif. Cuman terkadang, memang kata itu sering disandingkan dengan kata ‘ndridis’, ‘kakean polah’, lebih-lebih ‘hiperaktif’.
Lagi-lagi, semua ini masalah perspektif.

Akhir-akhir ini, lebih tepatnya sekitar 4 bulan belakangan, saya mulai terbiasa ada orang yang melabel kakak dengan segudang kalimat negatif, sebut saja n*kal, ringan tangan, ‘clengkre’ (ini bahasa jawa), dan sebagainya. Saya, mencoba menjadi orang yang bijak karena saya memahami semua yang mengatakan itu tidak berada bersama kakak alifa 24jam non stop, jadi yang mereka lihat adalah sisi-sisi kurang baiknya saja, oleh karena itu, semua itu cukup saya jawab dengan senyuman dan doa dalam hati, agar kakak selalu dijauhkan dari fitnah dunia, dan diberi keistiqomahan. Saya tidak ingin membebani mereka yang mungkin hanya sekali dua kali bertatap muka dengan alifa, terlebih jika mereka bukan bagian dari keluarga besar kami.

Yang mereka tahu, kakak alifa itu, selalu ringan tangan pada adeknya, padahal, si kakak ini, adalah pahlawan bagi adeknya, bagaimana tidak, ia rela dijambak adeknya tanpa melakukan perlawanan karena ia tahu adek masih kecil. Ia yang selalu membersamai adek, menyuapi adek saat bundanya menjemur pakaian di backyard. Ia yang selalu menenangkan adeknya saat si adek nangis lantaran di tinggal bunda memasak, dengan sigap ia mengambil mainan dan memberikan pada adek, jika adek belum berhenti nangis, ia akan mengajaknya cilukba, bernyanyi, dan pok ame-ame, tangannya begitu lihai menangkap adeknya yang hampir terjatih saat berdiri di dekat meja. Saat bundanya sedang sholat dan adeknya terbangun, ia rela meninggalkan segambreng mainannya dan mendekati adeknya seraya menenangkan adeknya “udah..udah.. cup cup.. dekk, ada kakak ini hlo, kakak temenin, bentar yaa, bunda lagi sholat, hloo udah mau siap bunda sholatnya, cup yaa, ini kakak kasih mainan…” saat adek masih saja menangis, kakak tak akan kehabisan akal untuk menghentikan tangisnya.

Saya, sebagai ibunya, yang ia panggil bunda, tentu yang lebih paham dari orang lain, karena saya yang dari melek mata ke merem mata, selalu membersamainya, karena saya tidak bekerja di ranah domestik tentunya.

Lalu, kenapa dia bersikap seperti itu? sikap-sikap yang dianggap orang negatif?. Ya, karena mereka lupa, kakak alifa tetaplah masih anak-anak walaupun sudah bergelar kakak, umurnya bahkan belum genap 3 tahun saat ini, yang ia inginkan hanyalah perhatian, jika setiap orang yang bertemu hanya memperhatikan adeknya, maka ia akan melakukan hal-hal yang bisa menyingkap perhatian.

She’s just a kid.

Dia bahkan belum bisa memberikan label benar dan salah pada setiap yang ia lakukan, ia belum paham hukum sebab akibat, ya karena ia masih kecil.
Justru, orang dewasalah yang seharusnya paham akan kondisi ini. Akan tetapi, sekali lagi, saya tidak pernah menuntut setiap orang yang bertemu dengan Alifa, untuk paham siapa dan bagaimana Alifa.

All they need’s a proof.

Komentator, akan tetap menjadi komentator saat mereka tidak terjun sebagai aktor. Jadi, saya memilih untuk tidak pening. Apalagi, ada suami saya yang akan selalu support saya. Munafik jika saya bilang saya tidak sakit hati, saya yakin, moms yang punya kondisi mirip saya, akan sangat memahami. Tetapi ada seorang partner yang selalu mengingatkan saya pentingnya husnudzon pada Allah.  Bahwa setiap tempaan ini, akan berakhir baik jika kita memilih sikap yang baik, dan akan berakhir tidak baik jika kita memilih sikap yang tidak baik.

We created our own desition.

Cerita ini, saya harap akan menjadi pesan bagi setiap orangtua, bahwa setiap anak itu anugrah yang unik. Ia mewariskan kearifan kita, maka mengajarkan kebaikan, tanpa ada dendam, itu lebih ia butuhkan ketimbang hanya menumpuk sampah sakit hati.



Setiap anak itu, bagai selembar kertas yang masih putih bersih, saat noda tertempel padanya, maka kesan yang nampak bukan indahnya kertas yang bersih, melainkan kertas tak terpakai yang layak buang. Sedang bila yang tertuang adalah tinta warna warni yang indah, maka ia akan disebut maha karya. 😊 Jadi, layakkah kita yang serba banyak kurangnya ini, mengotori anak kita dengan berbagai kalimat yang tidak baik? ataukah seharusnya kita hujani ia dengan berbagai doa yang akan menjadikannya seseorang yang penuh dengan kemuliaan?.

Salam hangat buat seluruh ibu yang memiliki anak-anak dengan umur yang tertaut sedikit. I'm proud of you. Being taft! 


Istana Mimpi Alza, Mei 2017

😊⚘

05 Mei 2017

Yuk! Perhatikan, Hindari, Optimalkan.


by. Defi Sulistyana Bunda Alza



bebek - bebek ku.. mari kemari…
ikutlah aku.. ke kebun bibit…
di sana banyak.. kesukaanmu…
cacing yang gemuk oi, ayo diserbu!

Siapa yang tahu nadanya? pasti bacanya sambil nyanyi… haha. ✌

Sesuai dengan yang saya janjikan kemarin, kali ini saya ingin menuliskan tentang ketiga hal yang tertera di judul.

Bayi kecil pertama saya, kami beri nama Alifa Izzatunnisa, dengan harapan, ia akan menjadi anak perempuan pertama kami yang penuh dengan kemuliaan, lahirnya pun di bulan yang penuh kemuliaan, Ramadhan tiga tahun silam, dan tak terasa, Ramadhan sudah ada di depan mata, semoga Allah limpahkan karunia agar kita disampaikan di Ramadhan tahun ini. Aamiin. 😊⚘

Sejak kecil, ia tumbuh menjadi bayi yang taft, seakan Allah menjawab setiap doa saya yang sering saya obrolkan dengan kakak saat kakak masih di dalam perut,
“sayang, tumbuh jadi anak shalihah, nurut Allah, kuat, tangguh, pantang menyerah, sayang sama adek-adek, nurut ayah bunda…” Dan ini bisa saya ulang lebih dari 10kali setiap harinya.
Saat ia lahir, begitu banyak kemudahan yang Allah berikan, mulai dari proses persalinan yang terhitung cepat di anak pertama, lalu saat ia minta lahir di bu bidan dari pada di rumah sakit, ceritanya saat sudah kerasa, di bawa ke RS malah disuruh pulang oleh DSOG lantaran belum bukaan, jadilah kami pulang dan ke tempat bu bidan dan ia lahir di sana, Alhamdulillaah, jadi bisa ngirit lahirannya, uang bisa dialokasikan ke aqiqah. aaah, makirit nih. 😥
Kemudian dalam satu bulan pertama, hanya 5hari begadang, sejak kecil belum pernah tidur gendongan, dan banyak kemudahan lain yang Maasyaa allah, terasa takjub akan kebesaran Allah yang mengijabah doa saya. Dan merasa bahagia atas kebaikan kakak pada bundanya.
Tak sampai di situ, Allah mudahkan pula kakak tidak GTM selama proses MP-Asi sampai sekarang, sehingga saya merasa jika saya sedikit saja berbangga diri, saya takut dicabut nikmat ini.

Sejak kecil, sejak saya memandikannya sendiri (selepas tali pusat puput), saya selalu bernyanyi saat mau mandi, memakai pakaian, makan, dsb. Isi nyanyinya tentu basmallah dan ucapan-ucapan doa keberkahan atas mandi, memakai pakaian, dan makan. Saat itu, saya tidak pernah berpikir kenapa saya bisa seperti itu, hanya faktor senang saja kalau bernada. 🎼🔊

Dan maasyaa Allah, saya baru tahu hasilnya saat ini, setelah saya tes potensi si kakak, ternyata kakak mempunyai kepekaan terhadap nada yang cukup tinggi. Bukan ke arah tipe auditori, tapi pada arah peka terhadap nada, sangat sensitif. Bahkan, saat ia berbicara pun, bernada. Tidak datar seperti cara bicara kebanyakan orang.

Saya masih ingat, bahkan ia bisa menghafal sekitar 10 lagu saat ia masih 1 tahun.

Hal ini, sekaramg menjadi poin penting untuk saya dalam mengajarkan ilmu baru, bahwa ia akan bisa menyerap dengan praktek dan diiringi ilmu yang disampaikan dengan suara yang ia suka.

Simple saja, misal mau keluar kamar mandi, kami mengucapkan “ghufronaka” tidak sekedar mengucap datar, tapi bernada, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan adab.

Tapi, hal ini tak serta merta menjadi poin plus saja, ada hal lain yang lebih kami perhatikan. Ternyata, si kakak ini tidak bisa mendapatkan nada yang negatif, semisal bentakan, suara keras, umpatan, dan sebagainya.

Bahkan, kakak bisa sampai demam tinggi lantaran dengar suara petasan yang kami nyalakan di teras rumah. Suara yang terlalu keras mengirimkan informasi ke otaknya dan tidak dapat diterima, sehingga outputnya jadi demam. Dulu juga pernah si ayah marah, dan ternyata karena si ayah tidak pernah marah padanya, ini mengirimkan informasi yang tidak bisa ia terima sehingga berujung pada demamyang tiba-tiba. Sangat sensitif!

Hal lain yang kami bisa ketahui, ternyata kakak merupakan anak dengan sikap empati yang tinggi, barokallahu ya nak!

Sekarang kami menjadi tidak heran, kenapa dimanapun ia berada, ia selalu berkomentar jika melihat sesuatu yang menyedihkan yang ia temui di jalan.

Dengan tahu bahwa gaya belajar kakak :
Visual Text 📑 👀
Kinestetik Gerak 🙆
Kinestetik Sentuh 🙌
Auditory 👂

Kami jadi paham bahwa setiap anak itu, pasti akan memiliki ketiga gaya belajar tersebut. Akan tetapi, tetap ada yang lebih dominan, dan yang lebih nyaman anak gunakan. 😊

Jadi, saya ingin sekali berbagi hal tentang pembelajaran ke anak, semoga kita serta merta memberikan judging ke anak bahwa mereka itu hiperaktif, cengeng, penakut, dan sebagainya. Tapi, coba perhatikan lebih dalam lagi, why?. Why mereka bisa seperti itu. Kalau memang bukan alasan kita yang menakut-nakuti atau mencontoh-i, berarti memang bawaan genetik merekalah yang membuat mereka seperti itu.

Love your kids as you love your self.

Pahami mereka selayaknya anda ingin dipahami oleh orang lain.

Karena setiap hal dari anak kita, akan kita pertanggung jawabkan kelak.

Saya ini, masih jauh pula dari kebaikan, tapi saya tidak lelah untuk mengejarnya.
Saya masih sering tidak bisa mengontrol emosi menghadapi anak, tapi saya belajar untuk itu.

Barokallahu fiikum! ⚘⚘⚘

#GamesLevel4
#GayaBelajarAnak
#Day15
#KelasBunSayIIP
#IIPSoloRaya

01 Mei 2017

Merajakan Permaisuri bag.2 (end) : Menyapihmu dengan sepenuh cinta.

by. Defi Sulistyana bunda Alza


Terimakasih sayang,
senyummu menguatkan bunda
pelukanmu pulihkan lara
candamu cairkan penat suasana
dan lelapmu mengingatkan bunda untuk senantiasa bersyukur pada Allah ta’ala.

Alhamdulillaahilladzi bini’matihi tatimush shalihat..

Melihatnya tertidur pulas, merupakan sebuah kenikmatan, sembari saya tetap merasakan mual yang luar biasa, dalam hampir 4 hari, setiap makanan yang masuk, pasti akan kembali, hingga akhirnya saya pasrah. Kami menitipkan kk al pada orangtua saya, kala itu ia hampir saja tak rela berpisah dengan saya. Segera kk al diajak ke acara pengajian bakda maghrib, sehingga saya dan suami pun bs segera berangkat ke dsog. Hanya dzikir yang saya ucap kala itu, tunduk pasrah atas apapun yang terjadi. Hampir satu jam menunggu, dan kamipun diminta untuk menginap di Hotel yang tak diidamkan.
Pecah tangis saya kala itu, bukan menangisi kondisi saya, tapi saya tak kuasa berpisah dengan kk al, baru pertama kalinya selama hidupnya, kami akan berpisah beberapa malam. Ayah yang mencoba menguatkan pun serasa tak saya gubris kala itu.
Kami putuskan pulang untuk mengambil beberapa baju, dan pertemuan itu terjadilah, kk menangis sejadi-jadinya lantaran ingin ikut, saya makin tak kuasa membendung airmata
“sayang, bunda minta maaf...bunda minta maaf… maafin bunda ya anak shalihah”
hanya itu yang mampu saya ucapkan.
Dan sesegera mungkin kami berangkat RS, saya membawa baju mungilnya dan mendekapnya erat sembari mencium aroma tubuh kk al yang melekat di baju itu.
“bunda, jangan sedih, kalau bunda sedih, nanti kk gak nyenyak tidurnya” kata ayah.
Lalu, sayapun baru tersadar bahwa benar, ikatan hati ini akan saling beresonansi, maka saya putuskan untuk mengikhlaskan ujian ini.
Semalam saya lalui tanpa saya mendekapnya, saat fajar datang, saya minta suami saya segera mungkin menemuinya, menghangatkan hatinya, dan saya rela berada di kamar itu seharian sendiri dengan penjagaan suster. Siang hari ibu saya menjenguk dan memberi banyak nasehat yang menyejukkan. Benarlah, seorang ibu yang lembut, baik tuturnya, akan sangat menentramkan hati anaknya. Beliau tidak menjudge saya karena hamil saat anak pertama masih kecil, melainkan menyemangati untuk kuat menghadapi keberkahan ini.

Sorenya, saya meminta pulang paksa karena saya sangat kangen kk al, dan dokterpun membolehkan saat melihat saya memeluk baju kecil si kk. Tetapi, saran dsog seakan menghantam, ia meminta agar saya menyapih kk.

Saya lalu berkonsultasi dengan DSA dan ibu saya tentunya. Dan jawaban saat itu, bismillah saya menyapih kk al diusianya yang baru 17bulan.

Melihatnya tersenyum, membuat saya menangis sejadi-jadinya. Bagaimana tidak, anak sekecil itu, saya rampas hak menyusu 2 tahun.
“bunda, tidak ada di dunia ini yang hadir tanpa persetujuan Allah, kalau bunda yakin, pasti kk al bisa” ayah memainkan perannya, penentram hati,
“ada Allah, bunda kuat”

Lalu, saya.meminta waktu khusus dengan kk sebelum tidur. Saya memang sudah mensounding kk bahkan sejak ia lahir bahwa menyusu hingga ia usia 2tahun, saat ia sudah pandai lari kata saya. Dan saya tak menyangka, saya harus memajukannya secepat ini.
“adek sayang bunda, tau gak bunda sayang kali sm adek… adek udah besar yaa, mau jadi kk,... kalau jadi kk, mimik susunya di gelas aja ya, pakai sedotan, nenen nya udah dulu, buat dd bayi…”

“iya bun…”

Cleeeesss….
Maasyaa allah, tabarokallahu dalam hati saya, saat ia hanya berucap itu, dan itulah momen dimana saya menyapihnya. Tanpa plester, tanpa jamu, tanpa tangisan berhari-hari, dsb.
Ia terlelap dengan bekal kenyang makan nasi, dan minum air madu hangat. Iya, saya mengganti konsumsi ASI dengan air madu hangat, kk al bisa habiskan 1 liter madu dalam 1 pekan.

Terimakasih sayang, semoga Allah memgaruniakan keistiqomahan padamu, juga pada adikmu.

Pelajaran ini, mengingatkan saya bahwa, mendidik anak itu cukup membutuhkan kedekatan kita dengan Allah, karena IAlah yang akan memudahkan urusan kita.

Buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya. Mendidik anak perempuan itu istimewa, itulah mengapa Rasulullaah mengibaratkan saat di surga seperti dua jari, dekat denga Rasulullah.

Cukup sabar, sabar, dan sabar… karena kesabaran ini akan kita tularkan kelak pada dirimya.

Bunda sayang Kakak 😊
Merajakan Permaisuri (Part 1)


by. Defi Sulistyana bunda Alza


Disuatu senja, tangan kecil itu erat menggenggam ku,

Ia hanya terdiam terpangku dalam hangatnya tubuhku.

Laksana biduan yang enggan mementaskan syair merdunya,

Langit sendu terasa menghampirinya.


“dek sasa sayang… mau maem apa?”
ia menggelengkan kepalanya saat  berbagai menu disodorkan untuk dipilih.
Seakan tunduk pasrah pada badannya yang sedang cukup tinggi suhunya.

Saat itu, saya sedang hamil anak kedua, hamil muda untuk kali kedua, saya berfikir akan semakin kuat, tak ada lagi sakit punggung, tak ada lagi mual karena telat makan, karena mengingat hamil yang pertama, saat sudah memasuki usia 9bulan pun, saya masih saja akan muntah hebat jika terlambat makan setengah jam. Pola makan benar-benar harus disiplin. Ternyata hamil keduapun sama, Alhamdulillaah Ya Robb..

Jabang bayi calon adek si kk kala itu berumur sekitar 2.5 bulan, kami tinggal bersama orangtua saya di Solo.
Menunggu kepulangan ayah, saya mencoba merayu si kk untuk mau makan, seingat saya, kala itu suhu tubuhnya hampir 39dc. Sesekali ia masih mau makan soto buatan ibu saya, tapi karena memang badannya sedak tak bisa diajak berkompromi, ia memilih untuk lesu.
Menjelang Maghrib, ayah datang dan kamipun bersiap untuk ke dokter karena ini sudah hampir 72jam. Kami melaju ke salah satu Rumah Sakit Swasta di Daerah Slamet Riyadi Solo, menyusuri jalanan yang basah diguyur hujan, dalam perjalanan kami berdzikir melangitkan doa dan harapan agar kk diberi kesembuhan.
Yes, sampai sana, sesuai prediksi saya, kk diminta cek lab, aduh, saya takut kalau-kalau ia menangis, lalu saya tepis pikiran itu dan segera saya sounding diri saya dan kk,
“sayang, bobok disini ya, nanti diencus sebentar, trus dapat hadiah”
“iya bunda, adek mau balon” pintanya kala itu.
Dua Suster jaga saat itu, dibuat heran oleh kk, karena melawanpun ia tidak, dan saat diambil darahnya pun, kk tak tegang sedikitpun, dan biidznillaah juga tidak menangis.
“Maasyaa Allah, tabarokallaahu fiik nak”, bisik saya padanya. “terimakasih ya sayang, udah mau nurut”

Ucapan seperti itu saya harap lazim diterapkan dalam setiap keluarga. Ucapan maaf dan terimakasih tidak boleh memandang umur. Jadi, bukan hanya anak yang harus minta maaf saat ia ada salah pada orangtuanya, tetapi saat orangtua ada salah, ia juga harus berani minta maaf pada anaknya.

“kamu pinter banget sih, nih bude kasih balon..” kata susternya
“alhamdulillaah, biidznillaah sus, terimakasih..” timpal saya.

Sebenarnya, saya meyakini, jika setiap orangtua tidak pernah memulai drama kolosal berupa pengerdilan keberanian, atau disebut menakut-nakuti, maka anak juga tidak akan takut dokter, suntikan, dsb. Tetapi terkadang ini masih membudaya, saat anak tidak segera makan, maka akan ditakuti untuk diperiksakan dokter, disuntik dokter, maka PFC (prefrontalcortexs) nya akan mengirim informasi berupa ketakutan dan akan disimpannya dalam limbyc.
Bukan hanya urusan dokter dan suntik, tapi juga kucing, anjing, hantu, dsb. Ini sangat sering digunakan untuk menakuti anak.
Tanpa sadar, kita orangtua membully anak dan menciutkan nyalinya hanya untuk urusan kepuasan kita. Padahal, hal yang sering dianggal sepele ini tidak akan kita rasakan efek jangka pendeknya, tapi berjangka panjang dikehidupannya nanti.

Merajakan permaisuri, kita tahu raja itu serba enak kan hidupnya? tapi jika menelisik lebih dalam, raja itu hidup dalam sebuah keteraturan dan kedisiplinan tingkat tinggi. Bahkan urusan makan dan jalan saja rumit sekali rumusnya.
Merajakan permaisuri, anak perempuan yang didisiplinkan sesuai dengan standar umurnya, bukan untuk dibebaskan berekspresi hingga terkadang salahpun dianggap hal biasa karena masih anak-anak. Jadi, bukan permaisuri yang dijadikan raja, tapi bagaimana mendidik permaisuri selayaknya raja. Harapan menjadi raja, pemimpin, setidaknya memimpin dirinya dan anak-anaknya kelak.

Kami pulang, dengan hasil negatif untuk typus dan DB, Alhamdulillaah.

Kk al, tumbuh menjadi pribadi yang mandiri di usianya yang belum ada 2tahun, Allah memilihnya untuk ditarbiyah sejak ia masih sangat belia. Hidup nomaden, dan menjadi calon kk saat ia masih sangat layak disebut adek.

Anak-anak itu, adalah guru terbaik orangtuanya. Apalagi anak pertama, ia akan menjadi role model pendidikan kita. Tempat kita training menjadi orangtua, jadi jangan menyiakannya dengan sumpah serapah, bully-an, dan kata-kata negatif lainnya, setidaknya saat ini push diri kita untuk investasi dunia akhirat.

Wallahu a’lamu 😊

29 April 2017

10 10mbg

I'm Doing Nothing


Sepertinya, caption itu sangat cocok dengan apa yang saya lakukan hari ini, hehe. Tak seperti hari-hari sebelumnya, bahkan saya seperti sebelum mendapatkan tugas ini, tidak memperhatikan dengan seksama terkait anak. Sedari pagi, semua berjalan ramai lancar, tidak memasak karena malamnya ayah membeli soto syawal dekat rumah, jadi pagi tinggal diangetin, mau bikin lauk tiba-tiba bapak mertua datang membawakan makanan plus lauk, Maasyaa Allah, rizki minallah, terkadang hal-hal seremeh inilah yamg kita lupa untuk mengucap syukur. Kita akan mengingat kurang bersyukur saat mendapatkan ujian, lalu selepas ujian, kita kembali terlena. Padahal sejatinya inti ujian adalah agar kita bisa menambah iman dan takwa kita.

Back to the topic, Observasi sudah, trial sudah, hasil yang belum menurut saya.
Jujur, saya pribadi masih gamang mau mengatakan anak saya berada pada tipe apa, karena diberbagai bagian, ia enjoy. Semisal dengan gaya visual, dia sangat suka sekali membaca, apalagi yang ada gambarnya. si kk bisa menghabiskan waktu sejam jika diajak ke toko buku.
Lalu, bagian tipe auditory, si kk ini sangat cepat nyantol jika saya mengajarinya lewat suara saya (misal doa-doa harian), bahkan saya masih ingat, diusianya setahun, ia bisa menghafal lebih dari 10 lagu hanya dengan lantaran saya menyanyi. Untuk hal-hal penting pun juga terbiasa saya suarakan keras dan bernada, sehingga ia sangat mudah 'nyantol'.
Aah, apalagi untuk tipe kinestetik, sepertinya saya hampir saja white flag dan pengen memakai asisten untuk mengurus anak. kk itu supeeeeeer penasaran akan sebuah ilmu, kalau dia belum trial and error or success, maka dia belum akan berhenti. 

Semakin bingung ini, memang karena saya masih minim ilmu dibagian seperti ini, oleh karenanya, saya sedang berandai-andai untuk bisa berkonsultasi pada yang lebih memahami ilmu seperti ini.

Saya termasuk orangtua yang meyakini bahwa anak kita bisa juga berada pada paduan tipe gaya tersebut, tapi pasti ada salah satu yang dominan.

Tetapi, saya belum menemukan metode yang tepat untuk hal tersebut.

#GamesLevel4
#GayaBelajarAnak
#Day10
#KelasBunSayIIP

28 April 2017

Let the Show Begin…..


Hari ini apalah apalah, maasyaa allah sekali padahal hanya di rumah saja sedari pagi. Mungkin karena tidak sholat subuh tepat waktu, dan tidak dibangunkan ayah lantaran ternyata semalam saya lupa membuka kunci kamar, saat ayah belum pulang mengaji. Dan saat ayah pulang, daya sudah terlelap hingga tidak mendengar saat dipanggil. Jadi selepas ayah subuh berjama’ah dimasjid, ayah baru membangunkan.
But oh no, selepas subuh, saya malah tak kuasa menahan kantuk, hingga akhirnya terlelap lagi, baby Z yang sudah terbangun pun akhirnya diurus ayah, begitu pula dengan urusan pagi seperti memutar mesin cuci dan mencuci piring.
Ting tong, jam 5.30am tiba-tiba saya terbangun dan kaget, hingga kram-lah tangan kanan saya, dengan cekatan ayah segera membenarkannya, setelahnya saya masih dipijit.
“bunda capek ya, semalam ayah ketuk-ketuk bunda gak denger”
“oh ya? maaf ayah…”
“semalam ayah hampir masuk sawah gegara kengantukan di jalan bun”
Kengantukan means ngantuk, kami terbiasa menggunakan sisipan ke-an karena ter-shibghoh bahasa kk al.
“ya Allah ayah, kasian banget.. tp motor gapapa kan?” hahaha.
Bercanda lepas pagi itu ternyata membangunkan kk al yang masih pulas, lalu kami bercanda berempat hingga pukul 6.00 dan saya bersiap terjun dapur.

Memasak gule kambing serta membuat ijon beserta sambal pecel, memerlukan waktu sekitar sejam dan waktu ini ayah gunakan untuk quality time bersama anak-anak. Karena jum’at maka ayah memotong kuku kk dan adek.

Kk sudah tak kuasa ingin memegang gunting kuku yang ayah bawa, karena terlalu lama memotong kuku adek, kk pun akhirnya mengambil kursi dan menaikinya untuk mengambil gunting kuku lainnya.

Begitulah kk saat ia sudah tak sabar, ia tidak bisa diam barang lebih dari 5 menit, mungkin bisa dibilang pantatnya panas kali ya, jadi ya kudu berdiri dan bergerak.
Hampir saja ia memotong sendiri kukunya, akan tetapi segera ayah membantu. Aktivitas-aktivitas yang memerlukan benda tajam, memang selalu membutuhkan pengawasan orang dewasa, apalagi, kalau anak masih batita. Walaupun si anak sudah mahir tentunya. Karena sikap mendidik kita, bukan sikap memperkerjakan, akamn tetapi sikap memberikan pengajaran.

Ini seharusnya berlaku bahkan sampai anak dewasa, semisal saat anak sudah tumbuh remaja dan dia bisa baking, kita sebagai ibu tidak seharusnya membiarkan ia baking sendiri dan kita santai-santai, tapi temani anak kita, ajak ngobrol, dan apresiasi dia. Begitu pula jika anaknya laki-laki. Dan ini berlaku buat ayah dan ibu, bukan hanya ibu semata.

Kelar urusan dapur, saya mengurus anak-anak, dan ayah mengurus kerjaan beliau.

Sekitar pukul 08.30, si kk sudah mulai bosan dengan rutinitas indoor, ia mengajak saya untuk menyusul ayahnya.
“ayok bun kita ke kandang bun, mau ngasih maem burung doro…”

oke. saya menuruti karena saya penasaran apa yang akan dilakukannya ditempat yang cukup kotor tersebut. Jangan tanya kalau saya ngapain yaa, pasti saya cuma jauh-jauh dan pegang hp untuk foto-foto, karena saya memang dari dulu urusan kotoran binatang sangat jijik. I don’t know why, mencoba woles tapi tetap tidak bisa. Begitu indahnya jodoh, saya yang tidak suka memelihara hewan, dijodohkan oleh Allah dengan orang yang sangat menyayangi binatang.. Allah guided me, untuk lebih toleran pada makhlukNya selain dari ras manusia.

And you know what? iyuuuuh… si kk sama sekali tidak jijik,
“kk aja yah, yang kasih makan”
lalu ia mengambil jagung kristal dan memberikan pada tiap kandang doro.

Saya amaze antara gak nyangka dengan bahagia. Anak saya gak jijikan yes!

Ternyata memang kata ayah, setiap diajak ke kandang, ia selalu menawarkan bantuan, tidak bisa hanya diam, dia buka kandang doro yang besar, ia masuk kesana bak seorang mandor yang lagi mengecek anak buah. bwahahaaha…

Jam 09.30 saya putuskan ajak kk pulang, sampai rumah saya mandikan lagi si kk, ya karena saya jijikan itu… hehehe.

Sekelumit cerita pagi ini, menyadarkan saya betapa memang anak sulung saya butuh acting out yang lebih.

Saya "merasa" gaya belajar nya yang mendominan adalah bagian kinestetiknya selain di bagian auditory tentunya.

Dan saya merasa sangat bersyukur atas hal itu, karena ini menjadi cambuk bagi kami orangtuanya agak kami bisa lebih mengasah ide untuk program belajarnya.

Hasil pengamatan gaya belajar kk al


Dari tabel diatas, memang kk al mengarah pada kinestetik auditory, walau memang tidak menutup rapat di visualnya. Tapi ya memang visual tidak di semua bagian.

Saya masih ingin 3 hari ke depan melakukan pemgamatan yang lain. Dan semoga Allah memudahkan langkah saya. Eh, koq saya, maksudnya langkah kami (me and my partner) hehe.


#GamesLevel4
#GayaBelajarAnak
#Day9
#KelasBunSayIIP
#IIPSoloRaya

Ayo! Ajarkan anak gemar membaca. by. Defi Sulistyana Ini merupakan hari ketiga bagi saya, dalam mencanangkan gerakan rumah ramah ...