20 April 2017

Dalam Mahabbah pada Penciptaku, aku mendidikmu


by. Defi Sulistyana

Anak acap kali dikorelasikan dengan sifat orangtuanya. Kenapa? karena mau tak mau, orangtua biologis-lah yang menjadi wasilah ia berkembang dari sebuah embrio menjadi janin, lalu ditiupkan roh.
kemudian, sang ibu yang menggembolnya kurang lebih 9bulan 10hari, tentulah menjadi faktor paling utama dibanding oranglain.

Terlebih-lebih, jika yang dilihat adalah anak pertama, ia menjadi sebuah role mode kedua orangtuanya dalam urusan pendidikan. Yang biasa tidak pernah mengurus anak, tiba-tiba setelah hari kelahiran, harus begadang, harus bagaimana caranya agak si anak tak kelaparan, dan sebagainya. Benar-benar masa transisi itu akan sangat terlihat pada anak pertama.

Ah, kenapa saya mbulet begini bahasanya. Haha. Maafkeun....

Suatu Maghrib, bunda yg sudah berada di rakaat pertama, mendirikan sholat di kamar, mendengar suara si adek menangis lalu merangkak ke depan saya, mau tak mau, pemandangan yang nyata di depan mata saya membuat saya yang ingin fokus sholatpun tetap melihat tingkah si kecil. Tiba-tiba si kk, yang sepertinya sedang asik dengan mainannya, meninggalkan mainan dan berlari ke arah adeknya, seraya berkata
"cup.. cup... udah.. ini hlo ada kakak...
dah diam, maafin kakak yaa.. dah sini sini main sama kakak...."

cles... trenyuuh sekali melihat pemandangan itu, yang membuyarkan konsentrasi saya berkholwat dengan Allah.

Eits, bukan di situ poinnya.

Tapi, lihatlah lagi bahasa yang digunakan ke adek, menurut mommies, itu bahasa timbul sendiri, atau karena belajar dari orangtuanya? Yap. jelaslah dr cara bunda-nya memperlakukan adek.

Iya, dia meniru. dan jangan salah, anak itu peniru ulung moms.

Lalu, anak yang suka meniru gaya bahasa ortumya seperti itu, apa tidak kasian kita kalau gaya bahasanya yang ditiru bukan dari orangtuanya? iya kalo oranglain bahasanya empuk seempuk daging sop iga yang terkenal itu. Lantas bagaimana kalau sebatas seempuk tulang daging sapi? uwo uwooo.... rontok nih gigi!

Begitulah moms, tanpa kita sadari, anak yang bersama kita itu, akan meniru cara kita, entah kita yang berprofesi sebagai guru, atau ibu rumah tangga.

Setiap anak terlahir spesial, dan dia akan semakin spesial saat dididik dengan cara yang spesial. Sebuah cara yang bukan "baik" dalam persepsi kita. Akan tetapi, "baik" dalam persepsi si anak.

Dan dalam games ke #4 ini, saya ingin sekali mencoba menggali potensi cara mendidik alaa alifa. bukan alaa saya. Karena, selayaknya pipa, saat pipa ini miring sempurna, maka ia akan bisa mengalirkan air dari hulu ke hilir secara sempurna pula. Namun, jika pipa ini ronga dimana-mana, tidak presisi, maka airpun bisa jadi tidak sampai pada destinasinya.

Begitu pula si kecil kita, saat ia belajar dengan cara belajar yang ia sukai, maka potensi melejitkan dirinya akan lebih optimal.

Saya belum meracik menu yang pas untuk mendidik si kk dengan caranya. Maka di game ke #4 ini, saya akan membuat acara untuk mendukung aktivitas belajarnya guna mendapatkan "cara belajar Alifa".


#Tantangan10Hari
#KelasBunsayIIP
#IIPSoloRaya
#Gameke-4
#GayaBelajarAnak


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ayo! Ajarkan anak gemar membaca. by. Defi Sulistyana Ini merupakan hari ketiga bagi saya, dalam mencanangkan gerakan rumah ramah ...