28 April 2017

Let the Show Begin…..


Hari ini apalah apalah, maasyaa allah sekali padahal hanya di rumah saja sedari pagi. Mungkin karena tidak sholat subuh tepat waktu, dan tidak dibangunkan ayah lantaran ternyata semalam saya lupa membuka kunci kamar, saat ayah belum pulang mengaji. Dan saat ayah pulang, daya sudah terlelap hingga tidak mendengar saat dipanggil. Jadi selepas ayah subuh berjama’ah dimasjid, ayah baru membangunkan.
But oh no, selepas subuh, saya malah tak kuasa menahan kantuk, hingga akhirnya terlelap lagi, baby Z yang sudah terbangun pun akhirnya diurus ayah, begitu pula dengan urusan pagi seperti memutar mesin cuci dan mencuci piring.
Ting tong, jam 5.30am tiba-tiba saya terbangun dan kaget, hingga kram-lah tangan kanan saya, dengan cekatan ayah segera membenarkannya, setelahnya saya masih dipijit.
“bunda capek ya, semalam ayah ketuk-ketuk bunda gak denger”
“oh ya? maaf ayah…”
“semalam ayah hampir masuk sawah gegara kengantukan di jalan bun”
Kengantukan means ngantuk, kami terbiasa menggunakan sisipan ke-an karena ter-shibghoh bahasa kk al.
“ya Allah ayah, kasian banget.. tp motor gapapa kan?” hahaha.
Bercanda lepas pagi itu ternyata membangunkan kk al yang masih pulas, lalu kami bercanda berempat hingga pukul 6.00 dan saya bersiap terjun dapur.

Memasak gule kambing serta membuat ijon beserta sambal pecel, memerlukan waktu sekitar sejam dan waktu ini ayah gunakan untuk quality time bersama anak-anak. Karena jum’at maka ayah memotong kuku kk dan adek.

Kk sudah tak kuasa ingin memegang gunting kuku yang ayah bawa, karena terlalu lama memotong kuku adek, kk pun akhirnya mengambil kursi dan menaikinya untuk mengambil gunting kuku lainnya.

Begitulah kk saat ia sudah tak sabar, ia tidak bisa diam barang lebih dari 5 menit, mungkin bisa dibilang pantatnya panas kali ya, jadi ya kudu berdiri dan bergerak.
Hampir saja ia memotong sendiri kukunya, akan tetapi segera ayah membantu. Aktivitas-aktivitas yang memerlukan benda tajam, memang selalu membutuhkan pengawasan orang dewasa, apalagi, kalau anak masih batita. Walaupun si anak sudah mahir tentunya. Karena sikap mendidik kita, bukan sikap memperkerjakan, akamn tetapi sikap memberikan pengajaran.

Ini seharusnya berlaku bahkan sampai anak dewasa, semisal saat anak sudah tumbuh remaja dan dia bisa baking, kita sebagai ibu tidak seharusnya membiarkan ia baking sendiri dan kita santai-santai, tapi temani anak kita, ajak ngobrol, dan apresiasi dia. Begitu pula jika anaknya laki-laki. Dan ini berlaku buat ayah dan ibu, bukan hanya ibu semata.

Kelar urusan dapur, saya mengurus anak-anak, dan ayah mengurus kerjaan beliau.

Sekitar pukul 08.30, si kk sudah mulai bosan dengan rutinitas indoor, ia mengajak saya untuk menyusul ayahnya.
“ayok bun kita ke kandang bun, mau ngasih maem burung doro…”

oke. saya menuruti karena saya penasaran apa yang akan dilakukannya ditempat yang cukup kotor tersebut. Jangan tanya kalau saya ngapain yaa, pasti saya cuma jauh-jauh dan pegang hp untuk foto-foto, karena saya memang dari dulu urusan kotoran binatang sangat jijik. I don’t know why, mencoba woles tapi tetap tidak bisa. Begitu indahnya jodoh, saya yang tidak suka memelihara hewan, dijodohkan oleh Allah dengan orang yang sangat menyayangi binatang.. Allah guided me, untuk lebih toleran pada makhlukNya selain dari ras manusia.

And you know what? iyuuuuh… si kk sama sekali tidak jijik,
“kk aja yah, yang kasih makan”
lalu ia mengambil jagung kristal dan memberikan pada tiap kandang doro.

Saya amaze antara gak nyangka dengan bahagia. Anak saya gak jijikan yes!

Ternyata memang kata ayah, setiap diajak ke kandang, ia selalu menawarkan bantuan, tidak bisa hanya diam, dia buka kandang doro yang besar, ia masuk kesana bak seorang mandor yang lagi mengecek anak buah. bwahahaaha…

Jam 09.30 saya putuskan ajak kk pulang, sampai rumah saya mandikan lagi si kk, ya karena saya jijikan itu… hehehe.

Sekelumit cerita pagi ini, menyadarkan saya betapa memang anak sulung saya butuh acting out yang lebih.

Saya "merasa" gaya belajar nya yang mendominan adalah bagian kinestetiknya selain di bagian auditory tentunya.

Dan saya merasa sangat bersyukur atas hal itu, karena ini menjadi cambuk bagi kami orangtuanya agak kami bisa lebih mengasah ide untuk program belajarnya.

Hasil pengamatan gaya belajar kk al


Dari tabel diatas, memang kk al mengarah pada kinestetik auditory, walau memang tidak menutup rapat di visualnya. Tapi ya memang visual tidak di semua bagian.

Saya masih ingin 3 hari ke depan melakukan pemgamatan yang lain. Dan semoga Allah memudahkan langkah saya. Eh, koq saya, maksudnya langkah kami (me and my partner) hehe.


#GamesLevel4
#GayaBelajarAnak
#Day9
#KelasBunSayIIP
#IIPSoloRaya

25 April 2017

Am I an auditory type ?





Belajar itu akan menyenangkan jika kita membuatnya enak dan nyaman.
Seperti halnya makan, kalau kita makan tergesa-gesa, yang ada hanyalah perasaan pingin segera menelan padahal belum terkunyah sempurna, hingga bisa berujung pada tersedak ataupun dada sesak karena terburu-buru makan. Ini sebuah iklim tak kondusif. Tapi bayangkan jika kita makan dalam keadaan yang nyaman, makanan enak, maka makan akan terasa lebih nikmat.

Begitupula saat belajar, kondisi sangat menentukan kenyamanan. Dan situasi nyaman seperti inilah yang bisa membuat korteks seseorang bisa terbuka lebar, dan ilmu akan bisa terserap dengan sempurna.

Akan tetapi, kenyamanan satu anak dengan anak lain tidak bisa disamaratakan. Ada yang nyaman dengan mendengar musik, adapula yang nyaman dalam keadaan hening.
Oleh karena itu, menjadi sebuah PR bagi para orangtua untuk bisa mengetahui gaya belajar yang bagaimana yang seharusnya diterapkan pada si anak.

Saya, belum mengambil hasil keputusan tipe belajar Alifa, tapi saya sedang mencoba menerapkan setiap tipe belajar padanya. Dan hariini adalah hari Auditori, setelah sebelumnya saya mengamati tentang gaua visualnya.

Jadi, seharian ini, saya menjajal cara pembelajaran auditori bagi si kk.

Hosh hosh, disambut pagi saat akan berangkat ke pasar, si kk bangun lebih awal dan ingin ikut ke pasar. Tujuannya jelas : minta jajan donut.
"Di pasar ada donat gak bun? nanti beli lolipop ya bun"... dan sederet pernyataan keinginan sesampainya disana.

Setelah memarkirkan sepeda, kami masuk melewati pintu kecil, dan disambut oleh pedagang snack. ulalaaa....  "gendong bun, kk gak keliatan, kk mau yang ini..." si kk akan puas saat ia memegang dan mengambilnya sendiri. Oke. Selesai dari toko snack, kami kesebelah membeli sayur, ia lalu menanyakan nama-nama sayur dan memegangnya sembari ikut menatanya. Sakbahagiamu naaak, batin hati saya. Bahkan ia sempat mengambil satu gepok sawi yang saya tak beli, hanya demi mengobati rasa penasarannya. Selepas dari beli sayur mayur, kami membeli bandeng dan susu kedelai, di kedai bandeng ini, rasa penasarannya semakin membuncah melihat ikan bandeng dan tongkol bertumpuk dan berjejer, tak dapat ia bendung, ia pun segera menowel mata ikan bandeng yang dikiranya masih hidup itu. Aduuuh, pikir saya akan rusak, ternyata tidak, Fiuuuh, Alhamdulillaah. Pulamglah kami setelah itu.

Menjelang siang setelah saya menyiapkan urusan dapur dan memandikan serta menyiapkan makan kk dan menyuapi adek, saya istirahat sejenak sambil nyruput TEH WANGSEP yang sudah saya seduh tadi pagi-pagi. Alhamdulillaah, nikmat wangi kental dan manis tentunya. Saya berpikir, apa yaa yang mau saya ajarkan. Hari auditory serasa hari Kinestetik. Haha. Akhirnya saya teringat kemarin saya menjanjikan pasir warna warni. Dan aha! saya akan praktek itu ajalah nanti setelah adek bobok.

Dan benar, selepas adek angleer, saya segera bercerita tentang bagaimana membuat pasir warna warni.
Saya mencoba mengajari lewat gambar, bercerita, dan kk senang sekali. tapi ya begitu, ia tidak sabar untuk segera praktek. Dan akhirnya saya tunduk dalam kepasrahan karena kasihan, dan kamipun membuat pasir warna pink! hihihiii...
senang bukan kepalang, ia segera bermain di halaman samping. Saya yang hanya masuk dalam hitungan menit, waktu keluar sudah mendapati pasir warna pink nya lenyap ditelan air. wkwkwkkk.... aduuuh kk, pasti dia sangat penasaran memberi air pada pasirnya, seperti lasir pak tukang.

Begitulah sekelumit cerita dari pagi tadi hingga siang ini, kk yang punya tingkat curiousity tinggi itu, berhasil membuat bundanya ngap-ngapan...

Menilik ke belakang, sebenarnya banyak hal yang membuat kk mengacu pada auditory, seperti saat di mobil, kami sering berdoa keluar rumah, doa naik kendaraan, dan doa kendaraan berjalan, hanya dengan 5x pengulangan, itu sudah melekat pada ingatannya. Juga urusan doa setelah adzan, dia hafal karena kami selalu mengeraskan doanya dan ia mendengarkan.
Adab-adab lain di rumahpun, juga seperti itu, seperti adab doa masuk keluar kamar mandi, doa melewati kuburan, dan doa-doa harian lainnya. Saya merasa sangat terbantu dengan cara saya bersuara keras dan ia mendengarkan, walaupun ia sibuk dan tidak melihat saya, ternyata ia memperhatikan suara saya dan mengingatnya. Maasyaa Allah...

Tapi, sekali lagi, saat ini saya belum menyimpulkan. 😊

Have a great day!
Have a barokah day!

#GamesLevel4
#Day7
#GayaBelajarAnak
#KelasBunsayIIP
#IIPSoloRaya
Visual Day : Yes, i'll try my best.


Hampir satu pekan ini, saya memggunakan hari-hari saya dengan menyelipkan sebuah investigasi. Eciye, gaya bener kosakata saya barusan. Tapi memang itu yang oaling cocok memggambarkan kegiatan sampingan saya. Haha.


Beberapa hari tak menulis di blog, tentunya bukan berarti tak menulis di tempat lain, hmm, saya mengandalkan google docs untuk urusan investigasi saya. Kenap? karena yang saya investigasi ini ada makhluk kecil yang maasyaa allah menawan hati, lembut, dan menyenangkan. Yes betul sekali tebakan kalian. My Alifa.

Kenapa anak sendiri di investigasi mba def?
Kurang kerjaan ya kesannya? emang sih, kerjaan saya "cuman" ngurus rumah sama anak-anak, sesekali diajak keluar suami agar tidak jenuh di rumah sih. Hihihii
Karena memang target saya sesuai yang saya tulis sebelumnya adalah untuk mengetahui tipe atau gaya belajar kk alifa.

πŸ”–Ada 3 gaya belajar seseorang :
1. visual
2. auditory
3. kinestetik

Yayaya... banyak sekali sumber yang meng-explain ketiga hal tersebut jadi saya tak perlu berbusa-bisa menjelaskan disini ya moms...

Dari 3 tipe tersebut, saya mencoba mengelompokkan kegiatan-kegiatan kk alifa masuk pada tipe mana saja. Dan ini sudah kelar yes. Sekarang, adalah waktunya untuk action menerapkan masing-masing tipe pada kk alifa. Satu tipe satu hari, dan today is Visual Day.

Berawal dari mengajaknya ngobrol bertatap muka, aaah, ternyata zoonk si kk segera memalingkan mukanya dari wajah manis bundanya ini, ia lebih suka ngobrol dengan nguprek di tempat bermainnya yang mungil, entah menyusun puzzle, membuat lukisan, atau yang lain seperti nonton tv. Bahkan eye contact mom and kid-nya gak sampai 2menit.

kk coba liat bunda... gak berhasil,
ish kk, sini bentar tengok mata bunda... tetap tidak berhasil,
Lalu, saya pangku dan saya ajak kontak mata, malah dianya senyum-senyum Hadeuuh.
Tapi, saya proud of her, walau tiada kontak mata yang lama, kk selalu mendengarkan bundanya. Misal sambil liat tipi, diminta ambil cikrak, dia mendengar tapi malas jalan, dan dua tiga kali saat saya sudah jenuh minta tolong, barulah kk lari mengambil cikrak dan memberikan pada saya. 😊

Oke, lanjut pengamatan lain, dia sangat suka membaca, bahkan di gramedia atau togamas, bisa habis sejam buat dia ngoprek buku-buku, jongkok, liat gambar-gambar, dsb.

Saat di rumah, dia suka bercerita pada si adek tentang boardbooknya. Saat bermain pun seperti itu pula.

Mmm, tapi kk mah, paling agak wow kalau urusan merapikan barang, ia lebih prefer bundanya yang rapiin, dan dia jagain adek. huff.

πŸ’‘ So, alifa iyakah berada pada tipe Visual? hmm, liat entar aja deh πŸ˜‰❣


#GamesLevel4
#HariKe6
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP
#IIPSoloRaya

20 April 2017

Dalam Mahabbah pada Penciptaku, aku mendidikmu


by. Defi Sulistyana

Anak acap kali dikorelasikan dengan sifat orangtuanya. Kenapa? karena mau tak mau, orangtua biologis-lah yang menjadi wasilah ia berkembang dari sebuah embrio menjadi janin, lalu ditiupkan roh.
kemudian, sang ibu yang menggembolnya kurang lebih 9bulan 10hari, tentulah menjadi faktor paling utama dibanding oranglain.

Terlebih-lebih, jika yang dilihat adalah anak pertama, ia menjadi sebuah role mode kedua orangtuanya dalam urusan pendidikan. Yang biasa tidak pernah mengurus anak, tiba-tiba setelah hari kelahiran, harus begadang, harus bagaimana caranya agak si anak tak kelaparan, dan sebagainya. Benar-benar masa transisi itu akan sangat terlihat pada anak pertama.

Ah, kenapa saya mbulet begini bahasanya. Haha. Maafkeun....

Suatu Maghrib, bunda yg sudah berada di rakaat pertama, mendirikan sholat di kamar, mendengar suara si adek menangis lalu merangkak ke depan saya, mau tak mau, pemandangan yang nyata di depan mata saya membuat saya yang ingin fokus sholatpun tetap melihat tingkah si kecil. Tiba-tiba si kk, yang sepertinya sedang asik dengan mainannya, meninggalkan mainan dan berlari ke arah adeknya, seraya berkata
"cup.. cup... udah.. ini hlo ada kakak...
dah diam, maafin kakak yaa.. dah sini sini main sama kakak...."

cles... trenyuuh sekali melihat pemandangan itu, yang membuyarkan konsentrasi saya berkholwat dengan Allah.

Eits, bukan di situ poinnya.

Tapi, lihatlah lagi bahasa yang digunakan ke adek, menurut mommies, itu bahasa timbul sendiri, atau karena belajar dari orangtuanya? Yap. jelaslah dr cara bunda-nya memperlakukan adek.

Iya, dia meniru. dan jangan salah, anak itu peniru ulung moms.

Lalu, anak yang suka meniru gaya bahasa ortumya seperti itu, apa tidak kasian kita kalau gaya bahasanya yang ditiru bukan dari orangtuanya? iya kalo oranglain bahasanya empuk seempuk daging sop iga yang terkenal itu. Lantas bagaimana kalau sebatas seempuk tulang daging sapi? uwo uwooo.... rontok nih gigi!

Begitulah moms, tanpa kita sadari, anak yang bersama kita itu, akan meniru cara kita, entah kita yang berprofesi sebagai guru, atau ibu rumah tangga.

Setiap anak terlahir spesial, dan dia akan semakin spesial saat dididik dengan cara yang spesial. Sebuah cara yang bukan "baik" dalam persepsi kita. Akan tetapi, "baik" dalam persepsi si anak.

Dan dalam games ke #4 ini, saya ingin sekali mencoba menggali potensi cara mendidik alaa alifa. bukan alaa saya. Karena, selayaknya pipa, saat pipa ini miring sempurna, maka ia akan bisa mengalirkan air dari hulu ke hilir secara sempurna pula. Namun, jika pipa ini ronga dimana-mana, tidak presisi, maka airpun bisa jadi tidak sampai pada destinasinya.

Begitu pula si kecil kita, saat ia belajar dengan cara belajar yang ia sukai, maka potensi melejitkan dirinya akan lebih optimal.

Saya belum meracik menu yang pas untuk mendidik si kk dengan caranya. Maka di game ke #4 ini, saya akan membuat acara untuk mendukung aktivitas belajarnya guna mendapatkan "cara belajar Alifa".


#Tantangan10Hari
#KelasBunsayIIP
#IIPSoloRaya
#Gameke-4
#GayaBelajarAnak


14 April 2017

ALIRAN RASA : FAMILY PROJECT
MENAKAR ANTARA KEMAMPUAN DAN KEMAUAN

Duhai gerimis, kau kirimkan pesan dari Tuanmu untuk kami penduduk bumi.

Tak ada kami yang disini bisa mengelak ataupun sekedar menunda hadirmu.

Duhai gerimis, kau yang hadir bersama awan gelap mengiringi.

Mengingatkan kami yang disini bahwa apalah arti hadirnya kami tanpa Tuanmu.


"gerimis romantis"

🌫🌧🌫🌧🌫🌧🌫🌧🌫🌧🌫🌧🌫🌧🌫🌧🌫


Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. 
(Q.S.Fatir : 2)



Sekelumit cerita kami dalam Family Project bulan ini, haaah! sebuah teriakan lega yang bisa dibilang hanya sesaat, karena sejatinya game - game yang diberikan selama ini adalah game yang harus dipraktikkan tidak hanya saat ada tugas ini saja.

Yap. saya menyadari bahwa IIP melalui bu Septi Peni mengajarkan saya dan teman-teman tentang konsistensi. Konsisten dalam kegiatan keluarga, bagi saya seakan membuat lebih menghargai anak-anak. Kita tidak hanya "sekedar" berkegiatan, makan minum mandi tidur nonton tipi, tapi lebih terjadwal.
He'em, konsisten itu suuuangaaaat tidak mudah, bahkan bagi saya yang tipikalnya perfeksionis ini.

Moms, pernah kan berada dalam kondisi ini? dimana there's no idea. Atau i don't know what should I do today.

Dalam surat fatir ayat 2 yang saya kutip diatas, jelas sekali mengatakan bahwa setiap yang hadir di depan kita itu adalah rahmat. Pendamping hidup, keluarga kecil, semua itu Rahmat! lalu apa iya, saya ini yang dhoif ini menyianyiakan begitu saja rahmat Allah? Tidak. Oleh karenanya saya belajar konsisten dalam hal memperhatikan kegiatan keluarga. Bagi saya, ini adalah ikhtiar saya untuk menjemput Rahmat Allah yang lain.

Jatuh bangun juga kami rasakan. karena kami bukan keluarga yang sempurna, bahkan saat melaksanakan games ke tiga ini, saya sangat merasa saya sedang sangat disayang Allah dalam ujian yang Allah berikan.

πŸ”–Masih banyak sekali yang belum tuntas dalam games Family Project ini, tambal sana dan sini harus dilakukan, tapi it's ok.

Terkadang, saya ingin mempunyai jiwa anak kecil, jiwa dimana secara kemauan mereka sangat tinggi curiousity nya. Akan tetapi mungkin secara kemampuan mereka masih terhambat dari sisi ages-nya.
Beda dengan kita orang dewasa, yang dikaruniai korteks yang sudah sempurna terbentuk, punya kemampuan, bisa doa, tapi ikhtiar no no, kemauannya masih berada di batas pagar saja.

Kendala terberat, saya di Family project ini saya lebih banyak bekerja bersama anak-anak. Saya menyadari suami harus ikhtiar di ranah lain yang tidak mungkin saya ganggu. Tapi, saya meyakini bahwa ini tarbiyah Allah yang harus saya jalani.

Terakhir, saya selalu berusaha untuk selalu menanamkan dalam pikiran saya, bahwa semua ini bisa saya lalui bukan karena kecerdasan saya, bukan karena kenyamanan yang diberikan suami, akan tetapi karena Allah-lah yang memudahkan saya. Allah yang menguatkan pundak saya, mengokohkan langkah saya. Dan bisa jadi ini semua wasilah dari doa suami saya, juga ridho saya atas suami yang tidak fully berada dalam family project.


Apapun yang terjadi, ku kan slalu ada untukmu
Janganlah kau bersedih, cz everything is gonna be okay.
-lagu yang selalu ayah nyanyikan buat bunda di kala bunda sedang down-

Makasih ayah!


πŸ’žDitulis dengan backsong "semua untuk cinta" by. Mike Mohede πŸ’ž

Saya ijin tak 'mbrebeees' bahagia dulu yaa!

πŸ’Ÿ Makasih ya bu Septi Peni sayaang... udah membawa saya dalam tantangan yang mendewasakan saya.


❣ dari seorang wanita yang berusaha mendapat badge "shalihah" dari Allah swt.


11 April 2017

When I raise the Sunshine (again)
Part #1


Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : bahwa" kami telah beriman" sedang mereka tidak diuji lagi?
-Q.S. Al Ankabut : 2-

Begitu indahnya kalimat Allah yang secara tegas namun lembut mengurai tentang keimanan seseorang berbanding lurus dengan ujian yang dihadapkan padanya.
Akan tetapi, tak sedikit dari muslim yang kemudian gagal memahamkan dirinya atas setiap ujian yang Allah berikan.
Mengeluh itu sebuah kewajaran. Jumud itu sebuah kelaziman. Tapi teguh itu sebuah keniscayaan. Tak menafikkan, saya pun pernah merasakan kepahitan-kepahitan diorama kehidupan ini. Mulai dari jatuh bangunnya menata diri sewaktu masih sendiri, dan hingga terkadang sampai saat ini. Akan tetapi, saya yakin pada Zat yang jiwa saya ada dalam genggamannya, bahwa semua itu akan berujung pada manisnya hasil. Entah Allah berikan bonusnya sekarang, atau semoga nanti saat di JannahNya.

Yang saya yakini, tak ada kesia siaan dalam hidup ini selama kita memegang teguh agamaNya, menjalankan perintahnya, pasrah pada takdirnya.

Begitu pula menjadi seorang muslimah.

Moms, dulu saya pernah berada pada titik rendah dimana saya pun tak luput dari perkara negatif. Perkara yang Allah tidak sukai, perkara yang membedakan saya dengan muslimah lain yang taat. Mungkin saja, saat itu saya mulia di mata oranglain, orang menghargai saya, tapi apa iya Allah seperti itu? unfortunattely not. i've done a mistakes yang Allah tak Ridho atas itu. Dan saya bersyukur, Allah tidak menempatkan saya pada jajaran orang-orang yang tak diberi hikmah.

Alhamdulillaah, saya hijrah!

Hijrah menjadi pribadi yang taat atas perintah Allah, mendekat dan terus mendekat pada Sang Penentu Takdir.

That's the key. Keyakinan bahwa saat kita bertaubat atas kesalahan kita, Allah akan mengulurkan bantuanNya untuk membimbing kita pada jalan yang IA ridhoi.

Pagi itu, masih sangat hangat terasa dalam pikiran saya, saya yang masih single di kala itu, menyegerakan untuk melangkah menuju tempat wudhu untuk mengambil wudhu dan menegakkan dua raka'at shalat dhuha. Masjid fakultas saya kala itu belum ada, tetapi mushola yang terletak di tengah-tengah kelas itu sangat roomy. Memasuki jurusan saya, menaiki anak tangga yang tak begitu menukik, langkah saya terayun pelan, menyusuri lorong penghubung jurusan lain yang masih satu fakultas, sedikit berbelok dan sampailah saya di mushola. Status saya disana sebenarnya sudah alumni, tapi sesekali saya masih kesana karena kebetulan gedung Pascasarjana tak jauh pula dari gedung fakultas saya saat S1. Saya adukan segala hal yang saya risaukan pada Allah. Bak gayung bersambut, Allah bukakan kepada saya segala hal yang ternyata tak nyata. Segala kesalahan-kesalahan yang saya pilih. Airmata hampir saja tak terbendung kala itu, kalau tak mengingat disitu ada seorang ukhti yang sedang mengaji, mungkin sudah sesenggukan saya. Tapi, gengsi saya masih terjaga. Hehe. Bisa jadi kalau saya menangis, akan mengganggu kekhusyukan oranglain yang sama-sama sedang berkholwat dengan Allah.

Itu sebuah titik balik dimana saya belajar pada kesalahan yang telah saya pilih. Dan saya mengazzamkan dan menguatkan niat untuk memantaskan diri sampai pada saatnya Allah datangkan jodoh saya.

πŸ’­πŸ’­πŸ’­πŸ’­πŸ’­

Ada yang sedang mengerutkan alis kah? bertanya-tanya apa sebenarnya masa lalu yang saya maksud? ahaha... maaf maaf, biarkan itu menjadi bagian just me and Allah yang tahu. Yang pasti saya bukan mencuri hlo yaa.... 😁✌

Moms, kalian pasti juga pernah punha titik balik kehidupan kan ya? dimana kota berada pada fase yang bisa dibilang tersungkur, lalu seakan Allah bimbing kita untuk bisa kembali bangkit dan semakin tawadhu' pada Nya.



......to be continued


*Dari seorang wanita yang sedang memantaskan diri untuk mendapat label shalihah dari Allah.


#NBB2017
#IIPSoloRaya
#BundaAlza

06 April 2017

Bye - bye Rumput!


Alhamdulillaah 'alaa kulli hal.
mengucap syukur itu adalah salah satu bukti kita masih diamanahi untuk menjadi hamba yang Allah sayang. Karena Allah tak mencabut nikmatnya beriman. Koq bisa mba def? iyalah bisa... coba kita survey, orang tidak beriman, apa iya waktu mereka digunakan untuk bersyukur? pasti mereka lebih meyakini bahwa setiap pencapaian mereka selama ini adalah hasil kerja keras mereka. Hasil mereka bersusah payah, terseol-seol saat bekerja mengais rupiah. Hmm, padahal tidak! semua itu hanyalah bagian dari kasih sayang Allah, lalu Allah mudahkan kita dalam mencapainya.

Laaah, aku masih gitu mba def, kadang merasa ya karena aku belajar, aku dapat nilai 10. kalau tak belajar, ya dapat nilai lower than that.

😊😊😊
Senyum semangat dulu yuuk...

Itu sebuah obrolan waktu duluu banget jaman kuliah, ngisi pengajian anak-anak SMA di salah satu SMA Negeri di Solo.

Kembali re-wind ingatan di masa itu. Lalu, saya kembali menjelaskan.

Kalian percaya gak? mba def pernah lupa belajar, eh lupa ada ujian gara-gara ikut bantu persiapan pengajian? heu heu... paginya nangis euy pas tau ada ujian. Tapi ya tetep aja kalem, datang.. belajarnya bukan lagi SKS (sistem kebut semalam), tapi SKS (sistem kedip semenit). Baru buka buku, dosen datang. Wes.. bismillaah aja. Seminggu kemudian, pas nilai dibagi... hufffff cuma dapat A ! πŸ˜…πŸ˜† #sombongdikitnih.

#Eh gak boleh sombong ding..
Itu kira-kira siapa yang nolong kita coba kalau bukan Allah? Allah yang memudahkan. kita underestimate dalam menakar kemampuan kita, tapi Allah mampukan kita, karena Allah paham kelelahan karena mengurus hal yang berkaitan dengan ummat.

Panjang juga prolog saya ya. πŸ˜₯

Moms, begitu juga pasca kampus atau pendidikan formal lainnya, atau bekerja, atau bermasyarakat. Semua yang diluar kemampuan kita, itu Allah lah yang memampukan.

Sebut saja, bagi moms yang terbiasa bangun subuh dan shalat tepat waktu, pasti merasakan kerjaan segambreng tetap bisa kelar tepat waktu dan cepet. iya gak? ayoo ngacuung... beda dengan yang bangunnya telat dikit.
Atau yang pagi menjadwalkan untuk dzikir rutin, dsb. Pokoknya aktivitas-aktivitas yang mendekatkan kita pada Robb.

That is the key! πŸ—πŸ—πŸ—

Seperti pagi ini, kerjaan yang serasa membabi buta, ternyata semua bisa kelar sebelum waktunya. no more extra time. hehe

Alhamdulillaah, family program untuk membersihkan halaman dari rumput ilalalng done! setelah itu loading barang, dan peremajaan kantor. (ups bahasanyaaaaa) hehehe. Yang pasti, kantor itu akan lebih keren saat ada sentuhan wanita. deal! 🐴

Saat ayah sedang sibuk dalam membersihkan rumput ilalang di halaman dengan alat semprot hama padi, si kk sedang sibuk di dapur mungilnya membuat mie (katanya sih gitu).

Dan saya? tentu bersama si kecil adek zahra. 

ayah yang sedang berjibaku dalam program bye-bye rumput!

kk sedang kursus masak ✌


Alhamdulillaahilladzi bini'matihi tatimush shalihat. Tomorrow is the last day in game#3.

Tancaaaap!

🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


#KelasBunSayIIP
#IIPSoloRaya
#TantanganFamPro
#Harike-15

ALIRAN RASA GAMES LEVEL 5 KELAS BUNSAY #2 KOORDI IIP by. Defi Sulistyana “Yang Tak Terlupakan” Bismillaah, Ramadhan seakan ...