13 Maret 2017

Yuk, Bangun Komunikasi yang baik dengan Anak




Bismillaah.

Memiliki keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah, dengan anak-anak menyejukkan pandangan orangtua merupakan harapan setiap muslim. Tetapi di zaman yang serba modern ini, ikatan keluarga tampaknya bukan hal yang mudah untuk dijalin dengan baik. Kemajuan teknologi tak pelak kadang menimbulkan kerenggangan hubungan antara orangtua dengan anak-anaknya. Oleh karenanya, komunikasi yang baik dan sehat harus senantiasa terjaga sepangjang waktu. Komunikasi adalah salah satu hal yang melatarbelakangi erat atau tidaknya hubungan sebuah keluarga. Anak-anak yang dibesarkan Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang bahagia umumnya akan terbentuk menjadi makhluk sosial yang bertanggung jawab dan lebih percaya diri. Jika Anda masih sulit untuk melakukannya, berikut adalah beberapa tips untuk membangun komunikasi yang efektif dengan anak-anak alaa saya :

1. Be a good listener for your child

Sediakan waktu untuk senantiasa ngobrol ringan sampai berat dengan anak-anak, jangan sampai biarkan media lain yang lebih disukainya untuk berdiskusi ketimbang kita sebagai orangtua. Dengarkan setiap cerita dan jadilah partner ngobrol yang enak bagi anak-anak, dengan begini, anak tak akan sungkan menceritakan detail setiap kejadian yang dialami. Ini sangat penting, apalagi untuk anak yang menginjak masa puber. Tunjukkan rasa penasaran Anda pada apa pun yang mereka ceritakan.

2. Berikan mereka waktu untuk merespon

Anak-anak mungkin memerlukan beberapa saat untuk memproses dan memahami apa yang Anda katakan. Jadi berikan mereka waktu untuk merespon perkataan Anda.

3. Bijaklah pada Media Sosial

Kita dan anak-anak kita berada pada jaman dimana, bukan kita yang menguasai gadget, tapi gadget yang menguasai. Jadi, pastikan untuk tidak menghindarkan mereka pada gadget tapi ajarkan mereka untuk bijak pada penggunaannya. Yangblebih penting lagi, sikap bijak ini bisa dibiasakan dari para ortu. karena anak itu akan meniru kita. 

4. Ngobrollah dengan bahasa mereka.

Terkadang ada orangtua yang menggunakan bahasa tidak pada tempatnya, hal ini akan membuat anak bingung. Jadi, gunakan bahasa yang ringan, yang tidak terkesan hanya menggurui. Jangan membuat anak Anda bingung dengan menunjukkan sikap dan kata-kata yang rumit. Mereka mungkin bisa salah mengartikan perkataan atau gerak tubuh Anda jika itu terlihat rumit.

5. Menghargai prestasi apa pun yang anak dapatkan

Anak kecil sangat gila pujian, setiap kelakuan mereka sebenarnya ingin mencari perhatian kita, maka jangan bully saat ia melakukan kesalahan, lalu berikan pujian kalau perlu hadiah atas setiap pencapaian prestasinya. Ajarkan bahwa semua itu proses, karena ini sangat dibutuhkan saat anak-anak mengalami kegagalan. 

6. Komunikasi yang menjadi Motivasi

Anak tidak suka digurui, tapi mereka suka dimotivasi, jadi, buatlah bahasa yang memotivasi, sehingga mereka merasa "aman" saat bercerita pada kita.

7. Menanggapi sesuatu dengan sabar

Sebagian orangtua terbiasa "judging" tanpa kemudian mempersilakan anaknya untuk memberikan penjelasan. Maka biasakan memberi jeda waktu pada diri kita untuk berpikir tentang apa yang ingin anak Anda sampaikan dan respon dengan cara yang lembut dan penuh perhatian. Menanggapi sesuatu dengan sabar adalah cara terbaik untuk berkomunikasi dengan mereka. 

Komunikasi itu, bisa jadi ekspresi cinta, tapi bisa juga menjadi ekspresi amarah. Komunikasi merupakan cara mengekspresikan perasaan kita. 

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Ibnu Hajar menjelaskan, “Ini adalah sebuah ucapan ringkas yang padat makna; semua perkataan bisa berupa kebaikan, keburukan, atau salah satu di antara keduanya. Perkataan baik (boleh jadi) tergolong perkataan yang wajib atau sunnah untuk diucapkan. Karenanya, perkataan itu boleh diungkapkan sesuai dengan isinya. Segala perkataan yang berorientasi kepadanya (kepada hal wajib atau sunnah) termasuk dalam kategori perkataan baik. (Perkataan) yang tidak termasuk dalam kategori tersebut berarti tergolong perkataan jelek atau yang mengarah kepada kejelekan. Oleh karena itu, orang yang terseret masuk dalam lubangnya (perkataan jelek atau yang mengarah kepada kejelekan) hendaklah diam.”

Wallahu a'lamu.

💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐

11 Maret 2017

And This is your turn, my little zahrani...

by. Defi Sulistyana

Tantangan Kemandirian
Final Result untuk anak kedua
Kelas BundaSayang IIP

Bismillaah.

Dalam sebuah rumahtangga, tak ditampik bahwa memiliki anak akan menjadi dambaan sepasang orangtua yang sudah menikah, dan kehadiran anak ini pun? diharapkan bisa menjadi penyejuk bagi kedua orangtuanya.

Dikaruniai anak laki-laki ataupun perempuan itu, semuanya adalah hak Allah, benar-benar hak prerogatifnya. Entah kita akan diberikan langsung setelah menikah, atau diminta menunggu.

Bagi saya, sangat bersyukur karena Allah telah mengaruniakan kedua putri yang terpaut usia tepat 2 tahun. Dimana sang kakak dan adik sebenarnya mempunyai tanggal perkiraan lahir (HPL) yamg sama, akan tetapi si kk maju 5 hari, dan si adek maju seminggu.

Ya, 12 Juli 2014 dan 10 Juli 2016 tanggal lahir mereka, anak perempuan shalihah yang menjadi dambaan kami, sangat bahagia karena Allah percayakan kami merawat dua putri. Teringat sebuah hadits 

Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata  bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 
مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ وَضَمَّ أَصَابِعَهُ
Barangsiapa yang mengayomi dua anak perempuan hingga dewasa maka ia akan datang pada hari kiamat bersamaku” (Anas bin Malik berkata : Nabi menggabungkan jari-jari jemari beliau). (HR Muslim 2631).

Dan semoga Allah ijabah dan permudah saya untuk bisa mendidik kedua putri kami agar kelak menjadi anak shalihah.

Zahrani saat ini berusia 8 bulan, di usianya ini, saya berusaha bukan untuk memandirikannya karena ini belum tahapnya bisa melakukan segala sesuatu tanpa bantuan kami. Akan tetapi, saya berusahaelatihnya untuk bisa merespon kami yang ingin mengajarinya untuk paham dengan dirinya sendiri.
Alhamdulillaah pekan kemarin, ia berhasil dalam hal diguyur dari kepala saat mandi, dan ia lolos disini, tanpa kemudian menangis, atau 'glagepen'.
Lalu diseminggu selanjutnya, kami berusaha menerapkan tahap awal toilet training-nya. Yap! mari pipis di kamar mandiii.

Hmmm, penasaran gimana caranya?
toilet training untuk anak sesuai dd za sebenarnya gampang-gampang susah, gampang saat kita bulat tekat tanpa ada rasa malas, karena bayi di bawah satu tahun, akan hapal dengan pola komunikasi yang kita ulang-ulangkan.

How?
hmmmm, tentu saja ada siasatnya, tak jauh beda dengan tritmen ke si kk saat ia masih kecil dulu,
1. atur ritme pas dia pipis, walau ini akan menimbulkan banyak ompol, tapi kita dapat melihat berapa menit sekali ia pipis.
2. setelah kita dapat melihat ritmenya, kita bisa mulai mengajak dia pergi ke kamar mandi, bahasa jawanya "ditatur". Awal-awal belum tentu mau, karena ia sedang menghafal nada serta cara.. tapi yakin.. lama kelamaan, ia akan langsung pipis setelah mencium aroma kamar mandi.
3. Gunakan kode suara, kalau saya, mengatakan "cuur... cuur..cuur...." diawal bisa berkali-kali, tapi makin kesini, dia sudah hafal ritme dan nada, maka dia dengan sendirinya akan pipis.

Mudah bukan? ini pun bisa dilakukan untuk poin PUP ya moms...

Alhamdulillaahilladzi bini'matihi tatimush shalihat.

Oiya, diusianya yang 8bulan ini, ia sudah bisa mengitari seisi rumah, pun dengan berdiri dan trantanan. Jadi, buat moms yang si kecil usia segini, biarkan saja ia melakukan apapun, cukup kita jaga, jangan terlalu sibuk untuk menggendongnya jika memang tidak benar-benar perlu. Ini bagiam juga dalam melatih kemandiriannya kelak.
Sedikit tips juga, untuk moms dengan anak yang baru lahir, jangam sering-seringenggendong yaa... biarkan ia tidur di kasur, atau taruh dalam stroller lalu doronglah, ini bagi saya sangat efektif menjadikan anak dari bayi -batita, tidak tidur gendongan.

And this is my little zahrani saat merangkak,



Have a great weekend!
Besok GFOs.. yuuuk kita ke pantai 🌞😆✌

📷📷📷📷📷📷📷📷📷📷📷📷📷📷📷📷📷

Sabtu, 11 Maret 2017
22.45

Dan Ternyata Cinta... yang Menguatkan aku..

Tantangan Kemandirian Anak
kelas BundaSayang IIP

by. Defi Sulistyana

Bismillah,

kk : bunda, capek ya?
bun : iya kak, mau bobok bentar
kk : iya sini, kk pijitkan
.....
lalu, seketika capekpun hilang saat hati terenyuh dengan sebuah perhatian anak kecil yang masih sering meminta di nang ning nang ning.

Dulu, jauh sebelum menikah dan punya anak mungkin saya belum memahami makna dewasa itu bukan umur patokannya. Yang saya pahami, kalau sudah besar ya pasti dewasa. Ternyata it's a big mistakes.

Walau saya pun menjalani aktivitas saya tidak bergantung total pada orangtua, tapi saya ternyata masih salah memaknai.

Masih teringat jelas, mendaftarkan SMA kala itu, bahkan saya hanya di dampingi kakak saya, semua by my self (big thanks to my sister, love you so much). Dulu nggrundel iya, yang lain di dampingi ortu, kenapa saya tidak? Tapi kini saya paham, terpaan itu mendewasakan saya. Ya walaupun itu tak sepenuhnya benar, karena orangtua yang memandirikan anaknya sebaiknya tidaklah melepaskan begitu saja, perlu didampingi dan dipantau. Ini mungkin karena didikan semi ketat ala bapak saya. 
Kini pun, didikan itu coba kami modivikasi, mana yang pas dan tidak pas menurut dapur kami. Orangtua harus pandai meracil bumbu mendidik anak, tak perlu beratus-ratus buku parenting, karena setiap anak memiliki caramya tersendiri, buku- buku itu hanyalah pilihan yang bisa diterapkan atau malah mungkin tidak bisa diterapkan ke anak-anak kita. Karena itu tadi, anak satu dengan yang lain berbeda. Jangankan yang berbeda ortu, yang sama ortu-pun tritmen nya belum tentu sama.

Okey, kembali pada aspek memandirikan anak, kali ini saya akan mengulas perjalanan belajar kk sa selama 5 hari ini.
Kalau dalam muqoddimah, saya sebenarnya hanya membuat dua target terpenuhi, akan tetapi dengan izin Allah, biidznillah, Allah mempermudah kk sa dalam beberapa aspek,
1. Saat saya berusaha mengajarinya makan DIY, Allah memberi kesempatan padanya untuk bisa mandi (pakai sampo dan sabun DIY)
2. Saat saya berusaha mengajarinya membereskan mainan DIY, Allah belum ijabah 100% dia paham, tapi Allah mudahkan ia untuk paham adab keluar masuk kamar mandi (masuk kaki kiri, keluar kaki kanan) yang diajarkan oleh ayahnya tanpa sepengetahuan saya. Dan ia juga lolos dalam melepas baju DIY, serta memakai baju DIY.
Barokallahu fiikum.

sebuah kejadian, yang masih teringat jelas beberapa hari lalu saat saya menemaninya makan malam, selesainya makan, ditaruhnya piring dalam bak cuci, dan dia mengucapkan, barokallahu... seperti halnya saat saya selesai menyuapi dia. Sebuah doa yang saya hantarkan agar makanan yang masuk padanya menjadi berkah serta wasilah ia jadi anak shalihah. Tak berhenti disitu, ia sesekali menyuapi adiknya lalu mengusap lembut kepala adik dengan berucap : barokallahu ya dek... (tentunya dengan logatnya sendiri yang masih 'pelo')

Ini sebuah didikan dari Allah yang dahsyat, banyak bersyukur, karena Cinta benar-benar telah menguatkan langkah saya.. rasa malas karena ujian dan cobaan, hampir saja melemahkan tekad saya dalam menjalani tugas kemandirian anak ini. Walaupun memang untuk menuliskan hasilnya, saya masih kacau.. benar-bemar perlu waktu yang tepat agar otak bisa sinkron menulis.

Inilah my Alifa Izzatunnisa, 2tahun 7bulan


Beberapa Pencapaian DIY -nya antara lain :
1. pipis
2. pub, selesai > baru memanggil bunda
3. mengucap salam keluar masuk rumah
4. keluar rumah memakai jilbab (walau hanya di pekarangan tanpa diminta)
5. menyisir rambut
6. merapikan mainan, belum 100%
7. makam minum 
8. memakai baju sesuai adab
9. melepas baju
10. memakai sepatu sesuai adab
11. mematikan kompor, mematikan dan menghidupkan sanyo
12. meletakkan pakaian kotor pd mesin cuci
apalagi ya.. many more.... itu hanya beberapa.

Alhamdulillaahilladzi bini'matihintatimush shalihat.

Tanpa ingin membandingkan dengan adiknya, semoga kelak ia bisa meniru sang kakak...

Barokallahu fiikum

🎀🎉🎗🎉🎀🎗🎀🎉🎗🎀🎉🎗🎀🎉🎗🎀🎉

Sabtu, 11 Maret 2017
21.30

05 Maret 2017

everyday is a training days....

by. Defi Sulistyana

🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌟🌟🌟🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞

Bismillaah.

hmmm, bener gak itu bahasa enggres nya.. ehehe...
malam ahad dan ahad ini, saya rapel jadi satu laporannya..
karena memang sabtu buntu dan ahad malah semangad jalan-jalan. And finally, dua hariini benar-benar rapi rumahnya tanpa berserak mainan.. tanpa banyak pegang henfon, dan malampun sesegera mungkin tidur. Eh, yang berserak adalah baju-baju kotor  karena ahad memang sengaja tidak memutar mesin cuci. 🐴
Padahal, sesuai planning saya di muqoddimah, selepas tantangan kemandirian makan, saya ingin menantang diri saya pribadi untuk melatih si kk pandai merapikan mainannya.
Sebenarnya cerewet meminta kk merapikan mainannya itu sudah bukan hal baru, akan tetapi ternyata saya sadari bahwa selama ini cara saya mengajarkan rapi itu belumlah tepat. Anak seusia kk sa, tidak akan mumgkin bisa memgingat dengan pasti nasehat yang berbelit.. apalagi sampai lebih dari 20 kata. Hmmm, 10 kata saja mungkin sudah dianggapnya dongeng penghantar tidur, apalagi 20 coba! angleeerr.... xixixi

Moms, memang cara paling cepat untuk mendidik anak kita adalah dengan menuai ancaman dan hasutan. Akan tetapi selayaknya makanan yang instan, apa iya akan bagus kita konsumsi tiap hari? coba saya tanya, apa iya moms mau makan bubur instan tiap pagi? atau mie instan tiap sianghari? atau bumbu nasgor instan tiap petang? jawabannya pastilah 'enggak' kan... lalu, kenapa anak dijejali dengan sesuatu yang instan kalau kita sudah paham betul efek jangka panjangnya..
Benar moms, cepat belum tentu efektif. Dan cepat belum tentu bagus. Apalagi dalam hal mendidik. Gak mau kan, anak-anak kita menjadi kader karbitan? pingiinya jadi kader yang matang pemikirannya kan? 💐💐💐 niih... saya suguhin bunga kalau begitu.

Mendidik anak itu perlu kreativitas tingkat tinggi moms, dan Allah menciptakan wanita itu penuh dengan kasih sayang. Maka dua hal ini sangat berarti dalam pendidikan. Anak bayi memerlukan bahasa ibu, anak batita pun memerlukan bahasa ibu, bahasa yang penuh kelemahlembutan. Bahasa yang akan mengantarkan anak memahami segala sesuatu secara utuh, terstruktur.

Begitu juga dalam merapikan mainan.

Dunia anak itu dunia main, bahkan dalam seluruh permainannya itu adalah sebuah ilmu baru baginya. 
"sayang... bunda mau menjadi raksasa, bunda mau mainan mainan yang belum masuk ke keranjang.. haem..haem..."
"awaaaass... minggin minggin.. mau kk becihkan, jangan maem mainan kk ya monsten" (perlu di translate apa udah paham moms? 😆😥 maklum, baru dua setengah tahun, jadi ya begitu pronounsationnya..)
"okey. jadi bunda sekarang monster ya? bukan raksasa?" 😂 gak apa-apa deeh (padahal dalam hati ngeluus banget. cantik gini dikira monster) 

atau

"ayooo kk, kapal nabi nuh udah jadi..., bantuin masukin mainannya ke keranjang, biar gak kena banjiir.."
"sek tunggu buun, jangan banjin dulu...mau kk yapihkan dulu ini hloo"
"oke...."
sesaat kemudian setelah rapi
"ayooooook bun cepet cepet, banjin buun, masuk sini.." sambil sudah rapi semua mainan dalam basketnya masing-masing lalu berimajinasi ada banjir besar menerjang

krik krik kriiik 🐞🐛🐉

garing gak??!
garing kan yaa.. kalau buat kita-kita..
Tapi enggaaaak kalau buat anak-anak, mereka akan senang belajar sambil bermain, berimajinasi, itu dunianya. Dunia yang penuh dengan kesenangan.
Begitulah cara yang saya gunakan saat ini, menyadarkan diri saya pribadi agar lebih 'alay' dalam konteks positif. hohoho.



Jadi moms, cara terbaik dalam mendidik anak bukan menggunakan cara tercepat,... karena hasil tak bisa kita rasakan sekarang, akan tetapi, suatu saat kelak saat ia sudah besar. Singkirkan gertakan, paksaan, serta ancaman. No more bullying pada anak sendiri, jangan salahkan jika merapikannya tidak serta merta bisa menginclongkan lantai. Semua ini proses.. sebuah proses yang tak cepat. Target perlu, tapi tidak memberatkan anak-anak. Karena bukan kita yang sedang belajar memantapkan jatidiri, tapi anak-anak kitalah.

Allahu a'lamu.

🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢🐢

kura-kura, diciptakan lamban bukan tampa alasan, Allah sudah menakar semuanya tepat sesuai timbanganNya. Tetaplah senantiasa bersyukur.
Alhamdulillaahilladzi bini'matihi tatimush shalihat 🐯

(written. Ahad, 5 Maret 2017 22.20 wib)
#TantanganKemandirianDay11&12

03 Maret 2017

Setapak Jejak Zahrani....

by. Defi Sulistyana

Tantangan Kemandirian #1to10

🐋🐬🐋🐬🐋🐬🐋🐬🐋🐬🐋🐬🐋🐬🐋🐬🐋

Bismillaah.
ia kami panggil adek.. tapi sesekali namanya pun terpanggil adek za.
Dalam sebuah keluarga, penyebutan panggilan aku, kamu, itu menurut kami tidaklah lazim atau pas, karena hal ini tidak mendidik anak-anak supaya saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Jadi, dalam keseharian, kami membiasakan diri tak menyebut panggilan kamu, kowe, aqu, tapi menggunakan kalimat kk, adek, ayah dan bunda. 

adek za saat ini tepat berumur 7bulan 23hari, daily activities nya adalah merangkak! hehe.. iya, sangat suka merangkak sejak sebulan terakhir ini.
Lalu, apa iya anak bayi bisa diajak latihan kemandirian? saya pikir, hanya mengajak si kk main games tanpa kemudian si adek tak diajak itu sebuah kesenjamgan, oleh karena nya si adek pun selama sepuluh hari ini saya ajak bermain games.

Aha! dan games itu adalah mandi.
Eits, bingung kan? iya semenjak ia mulai bisa duduk tegap sebemarnya, saya membiasakan mengguyurnya mulai dari kepala, byuuur...... seger iya kalau kita yanh mandi, tapi anak bayi? apa gak kasian? apa gak 'glagepen'?, dan... banyak pertanyaan lain.

Hmmm, memang kalau hanya berwujud cerita terkesan sangat kasian, masih kecil diguyur air, apalagi bayangkan bila kepalanya penuh sampo.. karena di keluarga kecil kami, anak-anak terbiasa keramas pagi dan sore hari.

Singkat cerita, di awal sayaencoba dengan sedikit air mengguyur, kaget? iyalah pasti.. air masuk ke hidung? alhamdulillaah enggak.. lalu si anak nangis? alhamdulillaah juga engga..

Wow. you're great honey..
Naik satu level lagi, mengguyur dengan air setengah gayung...
Dan naik level lagi, mengguyur dengan aitlr segayung penuh.

Ini sebuah pembelajaran baginya agar dia tidak kaget dengan siraman air, karena anak yang tidak terbiasa dengan ini (guyuran) saat mandi, bisa jadi sampai besar (usia 3-4 tahun) pun masih takut 'diguyur'.

Jadi, dikesempatan pengumpulan tugas yang ke sepuluh ini, saya sertakan hasil tantangan kemandirian si baby za,

but, no foto yaaa... hehehe..
karena ya memang tidak pernah 'eling' mau foto, mandipun selalu repot karena memandikan dua anak sekaligus. Jadi ya, yang pengen liat, main aja kesini pas jam mandi anak-anak.

and.... this is my little za



🐴🐎🐴🐎🐴🐎🐴🐎🐴🐎🐴🐎🐴🐎🐴🐎🐴

Have a barokah day.
Alhamdulillaahilladzi bini'matihi tatimush shalihat.

(written. jumat, 3 maret 2017 22.25wib)

02 Maret 2017

Yeay Yeay Yeaaay.... ane sudah kagak ngrapel tugas!


Tugas Kemandirian #8

by. Defi Sulistyana

🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝

Bismillaahirrohmaanirrohiim.

Memandirikan anak itu kebutuhan kita. Bukan paksaan, eh memang harus dipaksa. Karena kebaikan itu bisa jadi kebiasaan atau habit saat memang kita memaksa diri kita untuk terbiasa.

Belibet ya.. hehe

hari ini, kata si kk,
"bun kk maem ndiri hlo..."
bundanya dari kejauhan berkata iya, sambil 2 jempol teracung.

Heem, dia ambil lauk sendiri, tapi nasi tetap saya yang mengambilkan, karena berada di ricecooker. dimakannya nasi ayam goreng kremes, lahap iya, tumpah kemana-mana nasinya juga iya. 
Tapi it's okey selama saya tidak malas, kotor bisa jadi bersih dalam sekejap. wkwkkk... karena kalau malas ya akan saya biarkan dulu sampai mood sudah ada.

ini sudah hari ke 9, kalau diurut mulai dari awal pengumpulan tugas (yang pertama muqoddimah)

saya sudah merasa percaya diri mengatakan, untuk anak seusia anak saya 2tahun 7bulan itu sudah bisa mandiri dalam hal makan.

ia tau kapan ia harus makan, ia ambil makanan cemilan sendiri, ia ambil minum sendiri saat haus, ia sudah bisa mengatakan minta makan karena lapar, ia sudah bisa mengambil sendiri jatah susu uht nya dan membuangnya di sampah setelah selesai, dan sekarang intensitasnya makan sendiri lebih sering daripada disuapi bunda.

Wow. Amazing. Bukan saya yang berhasil, tapi kk sa- lah yang berhasil menaklukkan tantangannya. Padahal embel-embel stars yang mau saya berikan belum saya utarakan ke dia, berarti dia melakukan ini tanpa paksaan, tanpa pamrih hadiah, dan sejujurnya tanpa pengetahuannya karena terjadi secara alami...
Dia mau dia berusaha dan dia bisa.

Sesekali mulut kecilnya berucap, "bun kakak pinten maem sendiyi" (bun, kk pintar makan sendiri). Hehe, huruf R pun belum bisa tapi jiddiyahnya luar biasa bagi saya.

Saya beranggapan ia bisa menaiki anak tangga kemandirian yang lain, besok lusa.. akan tetapi tangga kemandirian yang ini tidak lantas saya cukupi..

Dan pekan ini, kk berhasil dalam tantangan kemandirian yang saya buat dan juga dia buat... yaitu bab makan dan bab mandi sendiri.

goodluck my dear.
Barokallahu fiikum 💯😚




🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾
🍽🍽🍽🍽🍽🍽🍽🍽🍽🍽🍽🍽🍽🍽🍽🍽🍽

(written. kamis, 2 maret 2017 22.05)
the Last Rapelan..

Tugas Kemandirian #7

by. Defi Sulistyana


Alhamdulillaah, di sela sela perjalanan menerjang hujan untuk menghadiri taklim, mampir sejenak ke kantor dan anak-anak posisi tidur, maka saya puaskan untuk menulis rentetan rapelan yang tak kunjung kholas.

ini saya tulis untuk laporan tugas kemandirian hari rabu, 1 maret 2017.

Tanggal satu itu bagi kami, adalah riweuh day karena gajian anak-anak (sebutan karyawan). Akan tetapi, keriweuhan tak kami rasakan hariini. Iya, pasang surut dalam perdagangan itu sebuah kearifan alam, karena sang pengatur rejeki itu bukan bos atau karyawan, akan tetapi Allahlah sang Maha Mengatur Rizki.
Boleh saja, banyak orang berbondong-bondong meniru gaya berjualan A yang laku keras, akan tetapi rejekinya belum tentu bisa sama, karena urusan rejeki itu tidak bisa ditiru. Itu urusan Robb dengan HambaNya. Dan dalam dagang kami, kami sedang diuji dengan miskinnya loyalitas hingga berakibat pada beberapa kecurangan dari karyawan. Buntutnya adalah, puluhan juta uang hilang entah kemana.
Audit digalakkan, akan tetapi bak nasi telah menjadi bubur. uang hilang pun tak bisa terganti total, karyawan apalah daya bisa mengembalikan curiannya. Maka saat ini, beberapa karyawanpun dipersilakan mencari alternatif penghasilan lain.

eh, kenapa saya malah curhat sih...
ahahaha. piss 😋😎

Kembali ke pointnya. Tapi asli, hal ini membuat saya susah menemukan inspirasi kata-kata. Hayyah... emangnya biasanya pinter apa..

progress si kk Alhamdulillaah biidznillah meningkat, bigger and bigger bright stars di dapatnya.

seperti halnya hari ini, saya cukup untuk menyiapkan nasi dan lauk, maka kk pun segera menyendoknya. Ya walaupun saya masih ikut berperan di situ, masih sesekali saya menyuapkan. 

Seperti halnya siang ini, tetiba ia ingin nasgor kesukaannya. Maka saya pun segera terjun ke daput untuk realisasi.

Tada.... 
"kk aja bun yang makankan" (maksudnya adalah kk saja yang makan sendiri...

Dan beginilah bahagianya seorang ibu saat anak kecilnya sudah menjelma menjadi gadis penuh kemandirian... 😍😍

sedikit picture yaaa ummah,




🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌹🌹🌹🌹🌹🌱🌱🌱🌱🌱🌱


written. 2 maret 2017, start nulis jam 16.05 kelar nulis jam 18.45 😆✌


ALIRAN RASA GAMES LEVEL 5 KELAS BUNSAY #2 KOORDI IIP by. Defi Sulistyana “Yang Tak Terlupakan” Bismillaah, Ramadhan seakan ...